Apa yang Psikologi Ajarkan kepada Saya tentang Meminta Maaf

Dulu, saya pikir meminta maaf itu sederhana.

Ketika kita menyadari bahwa kita melakukan kesalahan, kita meminta maaf, lalu selesai. Namun, semakin banyak saya belajar tentang psikologi dan hubungan antarmanusia, semakin saya menyadari bahwa meminta maaf yang bermakna ternyata tidak sesederhana mengucapkan kata “maaf”.

Terkadang, kita meminta maaf karena ingin konflik segera selesai. Karena tidak ingin orang lain marah lagi. Karena merasa bersalah dan ingin segera terbebas dari perasaan tersebut. Atau karena kita tahu bahwa kita memang seharusnya meminta maaf.

Padahal, meminta maaf bukan hanya tentang bagaimana kita merasa tidak nyaman setelah menyakiti seseorang. Ini juga tentang kesediaan untuk mengakui apa yang dialami orang lain akibat dari perilaku kita.

Ada perbedaan antara mengatakan,

“Maaf kalau kamu merasa tersinggung.”

dan,

“Maaf, perkataan saya tadi menyakiti kamu.”

Yang pertama bisa terdengar seperti kita meminta maaf atas perasaan orang lain. Sementara yang kedua menunjukkan bahwa kita bersedia mengakui bagian kita dalam apa yang terjadi.

Bukan berarti kita harus selalu setuju dengan cara orang lain memahami sebuah situasi. Kita tetap bisa memiliki perspektif yang berbeda. Namun, kita tetap bisa mengakui bahwa perkataan atau tindakan kita memiliki dampak tertentu bagi orang lain.

Dan mungkin, salah satu hal yang paling saya pelajari adalah:

Meminta maaf tidak sama dengan mengakui bahwa kita adalah orang yang buruk.

Mengakui bahwa kita melakukan kesalahan tidak berarti kita harus mendefinisikan seluruh diri kita berdasarkan kesalahan tersebut. Kita bisa mengatakan, “Saya salah.” tanpa kemudian menyimpulkan, “Saya adalah orang yang buruk.”

Justru, kemampuan untuk mengakui kesalahan tanpa langsung bersikap defensif membutuhkan kematangan tertentu. Karena sering kali, respons pertama kita adalah menjelaskan diri sendiri.

“Saya kan tidak bermaksud seperti itu.”

“Kamu salah memahami saya.”

“Saat itu saya sedang banyak masalah.”

“Tapi kamu juga melakukan hal yang sama.”

Mungkin semua itu benar dan memang memiliki konteks. Tetapi ada waktu untuk menjelaskan konteks, dan ada waktu untuk sekadar bertanggung jawab.

Karena menjelaskan mengapa kita melakukan sesuatu tidak selalu menghapus dampak dari apa yang kita lakukan.

Dan meminta maaf juga tidak seharusnya berhenti pada kata-kata. Jika perilaku yang sama terus berulang, lama-kelamaan “maaf” kehilangan maknanya. Karena pada akhirnya, permintaan maaf juga membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit: perubahan.

Mungkin kita perlu belajar lebih berhati-hati dalam memilih kata. Belajar berkomunikasi dengan cara yang berbeda. Mengenali pola dalam diri sendiri. Atau berusaha melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda ketika berada dalam situasi serupa. Karena terkadang, permintaan maaf yang paling tulus bukanlah yang kita ucapkan. Melainkan perilaku yang kita tunjukkan setelahnya.

Tentu saja, perubahan tidak selalu terjadi dalam satu malam. Kita manusia. Kita mungkin masih melakukan kesalahan yang sama. Tetapi seharusnya ada usaha untuk memahami apa yang terjadi, mengambil tanggung jawab, dan berusaha melakukan yang lebih baik.

Mungkin inilah yang mengubah cara saya melihat permintaan maaf setelah belajar psikologi. Saya tidak lagi melihat meminta maaf hanya sebagai sebuah bentuk kesopanan untuk mengembalikan hubungan menjadi “baik-baik saja”. Saya melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan self-awareness, accountability, dan repair.

Karena hubungan tidak dibangun oleh orang-orang yang tidak pernah saling menyakiti. Hubungan dibangun oleh orang-orang yang bersedia menyadari ketika mereka telah menyakiti, bertanggung jawab atas bagiannya, dan berusaha memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

Terkadang, kalimat yang paling dewasa mungkin sesederhana: “Saya mengerti kenapa itu menyakiti kamu. Saya salah. Maaf. Saya akan berusaha untuk tidak mengulanginya.” Tanpa buru-buru membela diri. Tanpa menjadikan permintaan maaf sebagai cara untuk mengurangi rasa bersalah sendiri. Dan tanpa menuntut orang lain untuk langsung memaafkan kita.

Karena meminta maaf tidak memberi kita kendali atas seberapa cepat seseorang pulih. Kita bertanggung jawab atas permintaan maaf kita. Mereka bertanggung jawab atas proses pemulihan mereka.

Dan mungkin, di situlah letak makna sebuah permintaan maaf.

Bukan karena setelah mengucapkannya semua masalah langsung selesai, tetapi karena kita bersedia bertanggung jawab atas bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

—Atika Meilani.

When Helping Becomes Too Much: Kapan Membantu Berubah Menjadi Overhelping?

Aku pernah berpikir bahwa ketika seseorang sedang kesulitan, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah membantunya. Kalau kita tahu jawabannya, kita beri tahu. Kalau kita tahu caranya, kita ajarkan. Kalau kita melihatnya kesulitan, kita bantu menyelesaikan.

Bukankah itu bentuk kepedulian?

Namun semakin dewasa, aku justru belajar bahwa membantu seseorang tidak selalu berarti melakukan sesuatu untuknya. Kadang, bentuk bantuan yang paling tepat justru adalah memberikan ruang agar ia mencoba sendiri.

Karena ada perbedaan antara helping dan overhelping.

Helping berarti memberikan dukungan ketika seseorang membutuhkannya, tanpa mengambil alih kemampuan dan tanggung jawabnya.

Sementara overhelping terjadi ketika kita memberikan bantuan lebih dari yang sebenarnya dibutuhkan sampai tanpa sadar kita mengambil alih sesuatu yang sebenarnya masih bisa ia lakukan sendiri.

Kita perlu memahami bahwa tidak semua bantuan adalah pertolongan.

Misalnya, seseorang sedang menghadapi masalah. Kita langsung memberikan solusi sebelum benar-benar mendengarkan. Seseorang sedang belajar melakukan sesuatu. Kita langsung mengambil alih karena menurut kita caranya terlalu lama. Anak sedang berusaha mengerjakan sesuatu. Kita langsung menyelesaikannya karena kita tidak tega melihatnya kesulitan. Atau seseorang sedang membuat keputusan yang sulit. Kita terlalu sibuk mengarahkan sampai akhirnya keputusan itu lebih banyak menjadi keputusan kita daripada keputusan mereka.

Awalnya terlihat seperti kepedulian. Tetapi coba kita tanyakan kembali:

Apakah orang tersebut memang membutuhkan bantuan kita, atau sebenarnya kita yang tidak nyaman melihat mereka mengalami kesulitan?

Karena terkadang, kita membantu bukan karena mereka tidak mampu. Kita membantu karena kita tidak tahan melihat mereka gagal. Kita tidak tahan melihat mereka bingung. Kita tidak tahan melihat prosesnya berjalan lebih lambat dari yang kita harapkan. Padahal, struggle tidak selalu berarti sesuatu sedang berjalan salah.

Ada hal-hal yang memang hanya bisa dipelajari ketika seseorang mengalaminya sendiri.

Kita bisa memberi tahu seseorang bagaimana cara menghadapi sebuah masalah, tetapi kita tidak bisa menjalani proses belajarnya untuk mereka. Kita bisa memberikan nasihat, tetapi keputusan tetap perlu menjadi miliknya. Kita bisa menemani seseorang ketika ia jatuh, tetapi kita tidak harus selalu mencegahnya jatuh. Dan ini bukan berarti kita harus menjadi cuek atau membiarkan orang lain menghadapi semuanya sendirian.

Justru sebaliknya.

Mungkin kita perlu belajar memberikan the right amount of help. Cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian, tetapi tidak terlalu banyak sampai ia kehilangan kesempatan untuk belajar. Cukup untuk memberikan arah, tetapi tidak sampai kita menentukan seluruh jalannya. Cukup untuk menjadi tempat bersandar, tetapi tidak sampai kita menjadi satu-satunya alasan ia mampu berdiri. Karena pada akhirnya, tujuan membantu bukan membuat seseorang selalu membutuhkan kita.

Tujuan membantu adalah membuat seseorang semakin mampu.

Mungkin karena itu, ada kalanya kita perlu menahan diri untuk tidak langsung memberikan jawaban. Memberikan kesempatan seseorang berpikir. Menunggu sebelum mengambil alih. Membiarkan seseorang mencoba caranya sendiri, meskipun caranya berbeda dari cara kita.

Dan mungkin yang paling sulit:

Membiarkan seseorang belajar dari konsekuensi pilihannya sendiri.

Tentu ada situasi ketika seseorang benar-benar membutuhkan pertolongan dan kita perlu hadir sepenuhnya. Ada kondisi ketika mengambil alih memang diperlukan. Ada pula keadaan ketika seseorang belum memiliki kapasitas untuk melakukannya sendiri.

Jadi, persoalannya bukan tentang membantu atau tidak membantu. Tetapi tentang memahami bantuan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan. Karena membantu juga membutuhkan kepekaan. Kita perlu cukup peka untuk tahu kapan harus datang. Dan cukup bijaksana untuk tahu kapan harus mundur.

Mungkin, bentuk kepedulian yang lebih dewasa bukan lagi tentang,

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”

Tetapi juga,

“Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku?”

Dan terkadang, jawabannya bukan solusi. Bukan seseorang yang mengambil alih. Bukan seseorang yang membereskan semuanya. Mungkin hanya seseorang yang duduk di samping kita dan berkata,

“Aku tahu ini sulit. Tapi coba dulu. Aku ada di sini kalau kamu membutuhkanku.”

Karena kita tidak selalu membantu seseorang dengan membuat jalannya lebih mudah. Kadang, kita membantu dengan membuatnya percaya bahwa ia mampu berjalan sendiri.

—Atika Meilani.

You Need Something Stronger Than Love in Marriage

For some people, love acts as an important aspect of a relationship.

In fact, it is.

Love gives you the sparks, the euphoric feelings, the comfort, and the excitement of having someone you want to share your life with. When you are in love with someone, you may see them as the best person for you. You feel that you are enough with them, that they are different from everyone else, and that they can give you something no one else can.

When the love sparks, you want to be around them. You want to spend time with them. You voluntarily want to spend the rest of your life with them. You do things to show them that you love them, hoping that this feeling will last forever. And eventually, you decide to marry them because you love them, and they love you back.

But what if I ask you,

Why does love make you want to marry your partner?

What do you actually mean when you say, “I love you”?

And perhaps the most important question:

Is love enough to marry someone?

Absolutely, everyone has a different definition of love and different ways of expressing it. For one person, love might mean spending as much time together as possible. For another, love might mean giving their partner freedom and space. For one person, love might be expressed through words, affection, and reassurance. For another, love might be expressed through responsibility, providing, or quietly making sure that their partner is taken care of.

So, when two people with different definitions of love decide to build a marriage together, how do they know that they are actually building the same kind of marriage? What are the things you believe a husband should do? What are the things you believe a wife should do? How do you see money, children, family, conflict, education, faith, and the responsibilities you will carry together? What happens when you disagree?

And perhaps more importantly, what is the framework you will return to when you cannot agree?

Because marriage is not built only during the moments when you are deeply in love. Marriage will also ask you to stay when you are tired. To communicate when you are angry. To listen when you do not completely understand. To compromise when neither of you gets exactly what you want.

And perhaps, there will be moments when the sparks are no longer as intense as they were in the beginning.

This is why I believe that you need something stronger than love in marriage. Not something that replaces love. But something that gives love a foundation to stand on.

For me, that foundation is religion.

More specifically, having the same religious foundation, the same fundamental understanding of what marriage is for, and a shared framework for seeing life. Because when two people share the same religious foundation, they have something to return to when their emotions are difficult to navigate.

When both of you are angry, there is still a principle that reminds you about how you should treat one another. When you disagree about something, there is still a framework that helps you determine what is right and what is wrong beyond simply “what I want” and “what you want.” When life becomes difficult, there is still the same belief that reminds both of you that marriage is not merely about fulfilling your own emotional needs, but also about fulfilling a responsibility before Allah.

And perhaps this is why, before asking whether you love someone enough to marry them, we should also ask:

Do we believe in the same things? Do we have the same understanding of why we are getting married? Do we share the same fundamental values? Do we have a similar framework for making important decisions? Do we have the same understanding of what it means to be a husband and a wife? Do we have the same direction when it comes to raising our children? Do we have the same understanding of what we are ultimately trying to build together?

Because having the same religion does not automatically mean having the same understanding.

Two people can identify as Muslims, pray, and share the same religious identity, but still have very different understandings of marriage, family, responsibility, money, gender roles, parenting, and conflict.

And this is why I think shared understanding matters.

Not necessarily agreeing on every single thing. But having enough common ground that, when differences arise, you are not standing on completely different foundations.

Because, naudzubillah, what happens when the sparks are gone? What happens when you are no longer constantly excited to see each other? What happens when you are tired, disappointed, overwhelmed, or simply going through a difficult season of life? What happens when the person you once thought was perfect suddenly becomes very human?

When that happens, I hope we have something more than feelings to hold onto.

Something that says,

“I may be upset with you, but I still know what my responsibility is.”

“I may not understand you right now, but I still know how I am supposed to treat you.”

“I may not feel the same intensity that I felt when we first met, but I still remember why we chose to build this life together.”

And perhaps, this is where religion becomes more than something that we practice individually. It becomes the foundation of the home we are trying to build.

Because love can fluctuate. Emotions can change. Attraction can have its seasons. Life circumstances can change us.

But when two people share a religious foundation, a similar way of understanding life, and a common vision for their marriage, they have something to return to. Something to hold onto. Something to remind them that marriage is bigger than how they feel about each other today.

This does not mean that love is unimportant. Of course, we want to love our spouse. We want to feel attracted to them, enjoy their company, miss them, laugh with them, and feel grateful that Allah chose them to accompany us through life.

But perhaps love should not be the only reason we stay. Because feelings are not always stable enough to carry the entire weight of a marriage. And perhaps this is why I would rather marry someone with whom I share the same foundation than someone I simply have the strongest chemistry with. Because chemistry can bring two people together. But shared values, faith, and vision can give them somewhere to return to.

So before marriage, perhaps we should ask ourselves more than,

“Do I love this person?”

Ask:

“Do we worship the same God?”

“Do we have the same fundamental understanding of marriage?”

“Do we share the same values?”

“Can we build a life in the same direction?”

“When our feelings become difficult, do we have something greater than ourselves to return to?”

Because perhaps, when the sparks become quieter, as they inevitably may in different seasons of marriage, we will be grateful that we built our marriage on something deeper than sparks.

We will still have something to hold onto. Something to remind us why we chose each other. Something to guide us when we don’t know what to do. Something greater than our feelings. Something that brings us back to Allah.

—Atika Meilani.

Tidak Semua Kebaikan Dibalas dengan Kebaikan yang Sama

Semakin dewasa, aku semakin menyadari bahwa ternyata salah satu hal yang membuat kita lelah dalam berbuat baik adalah ketika kita diam-diam menghitung balasan.

“Aku sudah baik kepadanya.”

“Aku sudah membantu ketika dia kesulitan.”

“Aku selalu ada ketika dia membutuhkan.”

“Kenapa ketika aku membutuhkan dia, dia tidak melakukan hal yang sama?”

Aku pikir, kita semua pernah berada di posisi itu. Kita melakukan sesuatu dengan tulus, tetapi kemudian kecewa ketika orang lain tidak memperlakukan kita dengan cara yang sama. Padahal, mungkin di situlah kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Apakah aku berbuat baik karena memang ingin berbuat baik, atau karena berharap suatu hari nanti kebaikan itu dikembalikan kepadaku dalam bentuk yang sama?

Sebab manusia memang memiliki kecenderungan untuk mengharapkan timbal balik. Ketika kita memberikan perhatian, kita berharap diperhatikan. Ketika kita mendengarkan, kita berharap didengarkan. Ketika kita membantu, kita berharap suatu hari nanti dibantu. Dan sebenarnya, berharap diperlakukan dengan baik bukanlah sesuatu yang salah.

Yang perlu kita hati-hati adalah ketika kebaikan yang kita berikan mulai berubah menjadi semacam hutang yang harus dibayar oleh orang lain.

Karena tidak semua orang memiliki cara yang sama dalam menunjukkan kasih sayang. Tidak semua orang mampu memberikan apa yang kita berikan.

Dan terkadang, seseorang bahkan tidak menyadari bahwa sesuatu yang kita lakukan untuknya memiliki arti sebesar itu bagi kita.

Lantas, apakah berarti kita harus terus memberi tanpa batas? Tentu tidak. Berbuat baik tidak berarti membiarkan diri kita terus-menerus dimanfaatkan. Menjadi tulus bukan berarti tidak boleh memiliki batas. Kita tetap boleh berkata tidak. Tetap boleh menjaga jarak. Tetap boleh berhenti memberikan sesuatu ketika hubungan tersebut sudah tidak sehat bagi kita.

Tetapi mungkin, kita perlu membedakan antara memberi batas karena ingin menjaga diri dan menarik kembali kebaikan karena ingin menghukum orang lain.

Karena keduanya terlihat mirip, tetapi datang dari tempat yang berbeda. Yang satu lahir dari kesadaran. Yang lainnya bisa lahir dari luka dan kekecewaan.

Maka, mungkin menjadi dewasa bukan berarti kita tidak pernah kecewa ketika kebaikan kita tidak dibalas. Kita tetap manusia. Kita bisa sedih. Kita bisa merasa tidak dihargai.

Tetapi setelah itu, kita belajar bertanya:

“Apakah aku ingin menjadi baik karena orang lain juga baik kepadaku?”

Atau,

“Apakah aku ingin menjadi baik karena memang itu nilai yang ingin aku pegang?”

Sebab kalau kebaikan kita selalu bergantung pada perlakuan orang lain, maka cara kita menjadi baik akan selalu berada di tangan manusia. Hari ini kita baik karena seseorang memperlakukan kita dengan baik. Besok kita berubah karena seseorang mengecewakan kita. Padahal, bukankah ada nilai yang ingin kita pertahankan bahkan ketika orang lain tidak melakukan hal yang sama kepada kita?

Dan mungkin, di situlah keikhlasan mulai belajar tumbuh. Bukan berarti kita tidak membutuhkan apresiasi. Bukan berarti kita harus terus memberi kepada orang yang tidak menghargai kita.

Tetapi kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu harus kembali melalui orang yang sama, dalam bentuk yang sama, atau pada waktu yang kita harapkan.

Kita berbuat baik karena Allah mengetahui. Kita menjaga adab karena itu bagian dari siapa diri kita. Dan ketika suatu hari kebaikan itu tidak kembali kepada kita dari manusia, semoga kita tidak merasa bahwa kebaikan tersebut menjadi sia-sia. Karena mungkin, tidak semua yang kita berikan kepada manusia memang ditakdirkan untuk kembali kepada kita.

Ada kebaikan yang kembali dalam bentuk ketenangan. Ada yang kembali melalui orang lain. Ada yang baru kita pahami manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Dan ada kebaikan yang mungkin tidak pernah kita lihat hasilnya di dunia. Tetapi Allah melihatnya.

Maka, tetaplah menjadi baik. Bukan karena semua orang layak mendapatkan kebaikan kita tanpa batas. Tetapi karena kita ingin menjadi manusia yang tetap memiliki adab, bahkan ketika orang lain tidak memperlakukan kita sebagaimana yang kita harapkan.

—Atika Meilani.

Setelah Menikah, Kamu Tetap Perlu Menjadi Dirimu Sendiri

Dulu, sebelum menikah, mungkin kita memiliki banyak gambaran tentang bagaimana kehidupan setelah menjadi seorang istri.

“Aku ingin menjadi istri yang baik.”

“Aku ingin menjadi tempat ternyaman untuk suamiku pulang.”

“Aku ingin bisa menemani suamiku dalam keadaan apapun.”

“Aku ingin menjadi perempuan yang bisa membuat rumah terasa seperti rumah.”

Aku pun mungkin pernah memiliki gambaran-gambaran seperti itu. Tapi setelah menikah, ternyata aku belajar satu hal yang sebelumnya mungkin tidak terlalu kupahami:

Menjadi seorang istri bukan berarti kehilangan dirimu sendiri.

Sebab, ketika dua orang menikah, bukan berarti dua manusia kemudian menjadi satu manusia yang harus selalu berpikir, merasa, dan melakukan segala sesuatu bersama.

Kita tetap memiliki pikiran sendiri. Kita tetap memiliki kebutuhan sendiri. Kita tetap memiliki ruang untuk bertumbuh. Dan menurutku, justru di situlah salah satu keindahan pernikahan. Kita tidak menikah untuk berhenti menjadi diri kita sendiri. Kita menikah untuk menjadi dua orang yang sama-sama bertumbuh, tetapi memilih untuk berjalan di arah yang sama.

Kadang-kadang, kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana menjadi istri yang baik sampai lupa bertanya,

“Apakah aku masih mengenal diriku sendiri?”

“Apakah aku masih tahu apa yang membuatku bahagia?”

“Apakah aku masih memiliki hal-hal yang ingin kupelajari?”

“Apakah aku masih memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga dan teman-temanku?”

“Apakah aku masih memberikan ruang kepada diriku untuk beristirahat, berpikir, dan berkembang?”

Sebab menjadi istri yang baik bukan berarti selalu tersedia setiap saat. Bukan berarti seluruh hidup kita harus berputar di sekitar pasangan. Dan bukan pula berarti setiap kebutuhan pribadi harus selalu dikorbankan agar pasangan merasa nyaman.

Ada kalanya kita perlu mengatakan,

“Aku sedang lelah.”

“Aku membutuhkan waktu sebentar.”

“Aku ingin melakukan ini.”

“Aku kurang nyaman dengan hal itu.”

Dan menurutku, kemampuan menyampaikan hal-hal tersebut dengan cara yang baik justru merupakan bagian dari kedewasaan dalam pernikahan. Karena pernikahan bukan tentang mencari seseorang yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan kita. Begitu pula kita tidak mungkin menjadi seseorang yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan pasangan kita.

We are still two different human beings, with different experiences, needs, emotions, and ways of processing things.

Lantas, bukankah lebih sehat jika kita tidak menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, satu-satunya tempat bercerita, atau satu-satunya alasan kita merasa berharga?

Pasangan memang seharusnya menjadi tempat kita merasa aman. Tetapi rasa aman tidak berarti kita harus kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri. Pasangan dapat menemani perjalanan kita, tetapi ia tidak harus menjadi seluruh perjalanan itu. Dan mungkin, justru ketika kita tetap memiliki kehidupan yang sehat sebagai individu, kita bisa hadir dalam pernikahan dengan versi diri yang lebih utuh.

Kita bisa mencintai tanpa kehilangan diri. Bisa dekat tanpa menjadi bergantung sepenuhnya. Bisa berkompromi tanpa terus-menerus mengorbankan diri. Bisa mendahulukan pasangan tanpa selalu meniadakan kebutuhan diri sendiri.

Sebab menjadi istri yang baik bukan tentang menjadi perempuan yang tidak pernah memiliki kebutuhan. Tetapi tentang bagaimana kita belajar mengenali kebutuhan diri, menyampaikannya dengan baik, sekaligus belajar memahami kebutuhan pasangan.

Bukankah pernikahan adalah perjalanan dua orang?

Maka, seharusnya bukan hanya satu orang yang terus belajar menyesuaikan diri. Keduanya belajar. Keduanya bertumbuh. Keduanya berkompromi. Keduanya belajar mencintai dengan cara yang mungkin tidak selalu sama dengan cara mereka ingin dicintai.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita sudah semakin lama menjadi istri, kita akan menyadari bahwa menjadi istri yang baik bukan tentang seberapa banyak bagian dari diri kita yang berhasil kita korbankan.

Tetapi tentang seberapa baik kita dapat mencintai pasangan, menjaga diri sendiri, dan tetap menjadi manusia yang bertumbuh di dalam pernikahan tersebut.

Karena aku tidak ingin menjadi istri yang hanya pandai mencintai suaminya.

Aku juga ingin menjadi perempuan yang tetap mengenal dirinya, menjaga hatinya, memperbaiki dirinya, dan terus belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Sebab sebelum menjadi seorang istri,

aku adalah seorang perempuan.

Dan sebelum menjadi seorang perempuan yang menjadi istri seseorang,

aku adalah seorang hamba yang sedang berjalan pulang kepada Allah.

—Atika Meilani.

Not Everything Needs to Be Solved Immediately

Semakin dewasa, satu hal yang aku pelajari adalah bahwa tidak semua hal yang mengganggu pikiran kita harus segera diselesaikan.

Terkadang, kita terlalu terburu-buru mencari jawaban. Ketika pasangan berubah sedikit, kita langsung bertanya, “Kamu kenapa?” Ketika seseorang membalas pesan lebih singkat dari biasanya, kita mulai berpikir, “Apa aku melakukan sesuatu yang salah?” Ketika sedang merasa sedih tanpa tahu alasannya, kita memaksa diri untuk segera memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Seolah-olah setiap perasaan harus langsung memiliki penjelasan.

Padahal.. Mungkin tidak semua hal membutuhkan jawaban hari ini.

Ada kalanya kita hanya sedang lelah. Ada kalanya emosi kita menjadi lebih sensitif karena banyak hal yang terjadi sebelumnya. Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk memahami apa yang kita rasakan sebelum mampu menjelaskannya kepada orang lain. Dan menurutku, menjadi dewasa bukan berarti selalu mampu memahami segala sesuatu dengan cepat.

Sometimes, maturity is knowing when to pause before trying to understand everything.

Sebab ketika terlalu terburu-buru mencari jawaban, kita sering mengisi ruang kosong dengan asumsi. Pasangan yang sedang diam kita anggap sudah tidak menyayangi. Teman yang sedang menjauh kita anggap sudah tidak membutuhkan kita. Hari yang terasa buruk kita anggap sebagai tanda bahwa hidup kita sedang tidak baik-baik saja.

Padahal, bukankah kita sering membuat kesimpulan ketika informasi yang kita miliki bahkan belum cukup?

Karena itu, sebelum berusaha mencari jawaban, mungkin kita perlu memberi diri sendiri ruang untuk berhenti sejenak. Bukan untuk mengabaikan apa yang sedang terjadi, melainkan agar kita tidak merespons hanya berdasarkan emosi yang sedang memuncak.

Lantas, bagaimana kalau sebenarnya yang kita butuhkan bukan jawaban, tetapi jeda?

Jeda untuk bernapas. Jeda untuk menenangkan tubuh yang sedang tegang. Jeda untuk membiarkan emosi mereda sebelum mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika emosi berada di puncaknya, terkadang yang kita cari bukan kebenaran. Kita hanya sedang mencari sesuatu yang dapat membenarkan apa yang kita rasakan.

Di situlah jeda menjadi bagian dari regulasi emosi. Jeda membantu kita menciptakan jarak antara apa yang kita rasakan dan bagaimana kita memilih untuk meresponsnya. Dengan begitu, kita tidak perlu menyangkal perasaan, tetapi juga tidak langsung membiarkannya mengambil alih seluruh tindakan kita.

Namun, mengambil jeda tidak selalu sama dengan menghindar.

Jeda berarti kita mampu berkata kepada diri sendiri, “Aku belum siap membahas ini sekarang, tetapi aku akan kembali membicarakannya ketika sudah lebih tenang.”

Ada kesadaran bahwa sesuatu sedang terjadi, ada niat untuk memahaminya, dan ada kesiapan untuk kembali menghadapinya ketika kondisi kita sudah lebih memungkinkan.

Sementara itu, menghindar berarti terus menunda, mengalihkan perhatian, dan berharap masalah selesai dengan sendirinya tanpa pernah benar-benar kita hadapi.

Karena itu, tidak setiap diam berarti kita sedang melakukan regulasi emosi.

Bisa jadi kita memang sedang memberi diri sendiri waktu untuk menenangkan diri. Namun, bisa juga kita sedang melarikan diri dari percakapan yang tidak nyaman, tanggung jawab yang perlu diselesaikan, atau perasaan yang sebenarnya perlu kita akui.

Begitu pula, tidak setiap kali kita membutuhkan waktu berarti kita sedang bersikap dewasa. Bisa jadi kita memang membutuhkan jeda. Tetapi bisa juga kita sedang takut menghadapi sesuatu yang sebenarnya perlu diselesaikan.

Maka, mungkin yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri bukan hanya, “Apakah aku perlu jeda?”

Tetapi juga,

“Apa yang ingin aku lakukan setelah jeda ini?”

dan,

“Setelah mengambil jeda, apakah aku bersedia kembali menghadapi apa yang perlu aku hadapi?”

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena jeda yang sehat memiliki arah.

Ia memberi kita ruang untuk kembali dengan pikiran yang lebih jernih, bukan menjadi alasan untuk selamanya menghindari masalah. Ia membantu kita mengatur emosi agar dapat berkomunikasi dengan lebih baik, bukan membuat kita menghilang tanpa penjelasan.

Bukan berarti kita harus mengabaikan perasaan. Bukan berarti kita tidak boleh bertanya, berkomunikasi, atau menyelesaikan masalah.

Justru sebaliknya.

Dengan mengambil jeda, kita sedang berusaha agar percakapan dan tindakan kita tidak hanya menjadi luapan emosi. Kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami apa yang kita rasakan, apa yang kita butuhkan, dan apa yang sebenarnya perlu disampaikan kepada orang lain.

Kita hanya perlu belajar membedakan:

Mana sesuatu yang memang perlu segera diselesaikan, mana sesuatu yang membutuhkan waktu untuk dipahami, dan mana sesuatu yang sebenarnya sedang kita hindari karena belum berani menghadapinya.

Ternyata, memberikan jeda bukan berarti menghindari masalah.

Sometimes, giving yourself time is part of solving the problem.

Sebab ada hal-hal yang baru bisa kita lihat dengan jelas setelah hati tidak lagi terlalu penuh. Namun, kejernihan itu seharusnya membantu kita kembali hadir, bukan membuat kita semakin jauh dari hal yang perlu dihadapi.

Mungkin, menjadi dewasa bukan tentang selalu memiliki jawaban. Mungkin, menjadi dewasa adalah kemampuan untuk berkata kepada diri sendiri,

“Aku belum tahu jawabannya sekarang. Dan tidak apa-apa. Aku akan memahaminya pelan-pelan.”

Lalu, ketika waktunya tiba, kita tetap bersedia kembali menghadapinya.. dengan emosi yang lebih tertata, pikiran yang lebih jernih, dan keberanian untuk tidak terus bersembunyi di balik alasan membutuhkan waktu.

—Atika Meilani.

Sometimes, We Outgrow the Version of Ourselves That Everyone Knows

Ada fase dalam hidup ketika kita mulai berubah, tetapi orang-orang di sekitar kita masih mengenal kita sebagai versi diri kita yang dulu. Mereka masih mengingat bagaimana kita dulu berpikir. Bagaimana kita dulu bersikap. Apa yang dulu kita sukai. Bagaimana kita dulu merespons sesuatu.

Lalu, ketika kita mulai berubah, mungkin ada yang berkata,

“Kok sekarang kamu berbeda?”

“Dulu kamu nggak seperti ini.”

“Kamu berubah, ya.”

Dan terkadang, tanpa kita sadari, kalimat-kalimat itu membuat kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku memang berubah terlalu jauh?”

Padahal, bukankah manusia memang terus berkembang?

Pengalaman baru mengubah cara kita melihat sesuatu. Kegagalan membuat kita belajar. Hubungan membuat kita mengenal sisi diri yang sebelumnya tidak kita ketahui. Bahkan, bertambahnya usia membuat kita menyadari bahwa beberapa hal yang dulu kita anggap penting ternyata tidak lagi memiliki tempat yang sama di dalam hidup kita.

So, yes. Maybe we are supposed to change.

Ada perbedaan antara kehilangan diri sendiri dan bertumbuh menjadi diri yang baru. Kehilangan diri mungkin membuat kita semakin jauh dari nilai-nilai yang sebenarnya kita yakini. Tetapi bertumbuh justru membuat kita semakin mengenal siapa diri kita, apa yang kita butuhkan, apa yang perlu kita perbaiki, dan apa yang tidak lagi ingin kita bawa ke dalam kehidupan kita.

Maka, tidak semua perubahan harus dicurigai.

Tidak semua perubahan berarti kita sedang menjadi seseorang yang lebih buruk. Terkadang, kita hanya sedang meninggalkan versi diri yang sudah tidak lagi sesuai dengan siapa kita hari ini. Dan mungkin, bagian tersulitnya adalah ketika orang lain belum terbiasa dengan versi baru kita.

Mereka mungkin membutuhkan waktu untuk mengenal kita kembali. Begitu pula kita.

Because sometimes, we are also learning how to meet the person we are becoming.

Kita sedang belajar berbicara dengan cara yang berbeda. Belajar menetapkan batas. Belajar mengatakan tidak. Belajar tidak lagi bereaksi seperti dulu. Belajar memilih apa yang ingin kita pertahankan dan apa yang ingin kita lepaskan.

Dan semua proses itu mungkin terasa asing, bahkan bagi diri kita sendiri.

Tetapi bukankah pertumbuhan memang sering kali terasa asing sebelum akhirnya terasa seperti rumah?

Maka, jika hari ini ada seseorang yang berkata bahwa kamu sudah berubah, mungkin kamu tidak perlu buru-buru merasa bersalah.

Tanyakan saja kepada dirimu sendiri:

“Apakah perubahan ini membuatku semakin dekat dengan nilai-nilai yang ingin aku pegang?”

“Apakah aku menjadi lebih sadar terhadap diriku dan orang lain?”

“Apakah aku menjadi lebih mampu bertanggung jawab atas pilihan dan emosiku?”

Jika jawabannya iya, mungkin tidak semua perubahan perlu dijelaskan kepada semua orang.

Some versions of us are meant to be left behind.

Bukan karena versi itu buruk. Tetapi karena ia sudah menyelesaikan tugasnya dalam perjalanan kita. Dan mungkin, bertumbuh memang berarti berani mengucapkan terima kasih kepada diri kita yang dulu… lalu melanjutkan perjalanan sebagai seseorang yang baru.

—Atika Meilani.

What Studying Psychology Taught Me About My Own Parents

Studying psychology has taught me many things about people.

Why we behave the way we do. How our experiences shape the way we think. How emotions influence our reactions. How differently people communicate, cope, and express what they need. But perhaps one of the most personal things psychology has taught me is how to understand my own parents.

Not because studying psychology suddenly made me understand everything about them. In fact, the more I learned, the more I realized that people are much more complex than any theory can fully explain. I began to understand that my parents also have their own experiences, fears, beliefs, limitations, and ways of making sense of the world.

They grew up in a different time. They learned to communicate in different ways. They experienced things before I was even born. And perhaps, just like me, they were also learning how to become parents while raising me. This changed the way I communicate with them.

I learned that the same message may need to be delivered differently depending on the situation.

Sometimes, my parents need me to explain something clearly. Sometimes, they need me to listen first. Sometimes, correcting them immediately will not make the conversation better. Sometimes, I need to choose the right timing. And sometimes, the most helpful thing I can do is simply understand that they may see something differently from me.

Psychology taught me that communication is not only about what we want to say.

It is also about whether the other person is ready to hear it, how they interpret it, and what kind of communication allows them to actually receive the message. I also learned to be more careful with the assumption that because I understand something psychologically, I automatically understand my parents.

I don’t.

Knowing about attachment, defense mechanisms, emotional regulation, family dynamics, or communication patterns does not give me permission to put labels on the people I love. It gives me a different lens to approach them with more curiosity.

Instead of immediately thinking,

“Why does my mother react like this?”

I might ask,

“What might she be experiencing right now?”

Instead of,

“Why doesn’t my father understand what I’m trying to say?”

I might wonder,

“Am I communicating this in a way that makes sense from his perspective?”

This does not mean that everything my parents do is automatically right. Understanding someone does not mean agreeing with everything they do.

There are still moments when I need to communicate my boundaries, express disagreement, or have difficult conversations with them. But I have learned that how I communicate disagreement matters.

There is a difference between trying to make someone understand me and trying to make them feel wrong. And perhaps adulthood has taught me that I don’t always need to win a conversation with my parents. Sometimes, I just need to make sure that we understand each other a little better than we did before.

The older I become, the more I also realize that my parents are not simply “my parents.” Before they became my mother and father, they were two individuals with their own stories. They had dreams. They made mistakes. They had things they were still learning. And perhaps some of the things I once interpreted as simply “the way my parents are” were actually parts of their own unfinished stories.

Studying psychology did not make me more distant from them. If anything, it taught me to approach them with more patience. To choose my words more carefully. To understand that different situations may require different ways of communicating.

And most importantly, to remember that psychological knowledge is not meant to make us feel superior to the people we understand.

It should make us more compassionate. Because at the end of the day, my parents are also human beings trying to navigate life with whatever knowledge, experiences, and capacities they had at the time. And perhaps I am doing the same.

So, if there is one thing studying psychology has taught me about my own parents, it is this:

Understanding people is not always about knowing why they behave the way they do.

Sometimes, it is about learning how to meet them where they are and finding a better way to reach each other from there.

—Atika Meilani.

Communication is not Forwarding Messages

Psychology taught me that communication is not only about what we want to say.

It is not simply about forwarding a message from one person to another. It is also about how the message is received, interpreted, and understood by the other person.

The same words can be understood differently depending on someone’s emotional state, experiences, beliefs, and the context in which the conversation takes place.

That is why, when communicating with my parents, I learned that knowing what to say is only one part of the process. I also need to consider when to say it, how to say it, and whether they are in a position to hear it.

Sometimes, the message does not need to change. The way I deliver it does. Sometimes, I need to explain. Sometimes, I need to listen first. Sometimes, I need to choose a better time. And sometimes, I need to accept that being understood does not always happen in one conversation.

Because communication is not successful simply because I have said what I wanted to say. It becomes meaningful when we are able to create enough space for both people to understand and be understood.

—Atika Meilani.

Orang Tua pun Belajar untuk Menjadi Orang Tua

Terkadang, ketika aku bepikir, membayangkan, mendambakan, dan merancang gambaran besar masa depan yang ingin aku rajut kelak…

“Aku nanti harus menjadi seorang istri yang baik dan meneduhkan.”

“Aku ingin menjadi orang tua yang dapat memberi teladan yang baik untuk anak-anakku nanti.”

“Aku ingin menjadi sahabat dan tempat ternyaman untuk suami dan anak-anakku nanti.”

“Aku ingin suami dan anak-anakku bersyukur karena memiliki istri dan ibu seperti diriku.”

“Aku ingin menciptakan rumah sebagai tempat ternyaman untuk kembali dari penatnya dunia.”

Aku membuat rencana besar dan berkomitmen dengan diriku sendiri mengenai bagaimana aku akan membawa diriku ketika aku menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anakku nanti, dengan mempersiapkan diri dan belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik, berjuang dan belajar sekuat tenaga.. juga memikirkan, bagaimana aku akan tetap tenang dan mampu untuk menghadapi kesulitan saat mendidik anak-anakku nanti.

Disaat seperti itu, aku sering lupa, bahwa orang tuaku mungkin juga pernah ada di posisi demikian ketika mereka belum mengemban peran menjadi orang tua—mereka juga mendambakan untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya nanti.

“Mungkin orang tuaku juga pernah bercita-cita memikirkan rencana-rencana yang ingin mereka lakukan saat mereka memiliki anak.”

“Mungkin, dulu, mereka juga pernah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin agar mereka bisa membesarkan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.”

“Mungkin, dulu, mereka juga berkomitmen dengan dirinya sendiri untuk berjuang sekuat tenaga menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya.”

Lalu aku berpikir,

Apakah ayah dan mama pernah merasa gagal menjadi orang tua? Apakah ayah dan mama pernah sempat ingin menyerah karena merasa sulit menghadapi anak-anaknya? Apakah ayah dan mama sering berjanji dengan dirinya sendiri berulang kali supaya dapat menebus ketidaksengajaan manusiawinya saat menjadi orang tua dan berharap dapat berhasil menjadi orang tua yang baik?

Seberapa sering mereka merasa berat? Seberapa sering mereka merasa gagal? Seberapa sering mereka menyalahkan dirinya sendiri saat mereka melakukan kesalahan yang bahkan mereka sendiri tidak sengaja melakukannya?


Aku sadar, betapa seringnya aku berlaku egois sebagai seorang anak. Mungkin memang benar bahwa itu hakku untuk mendapat pendidikan dan pengasuhan yang baik dari orang tua. Mungkin memang kesulitan yang dihadapi saat membesarkan anak itu adalah memang bagian konsekuensi dari peran mereka.

Tapi aku lupa, bahwa orang tuaku itu manusia. Mereka bisa merasakan kegagalan. Mereka bisa menyalahkan dirinya sendiri meski mereka sudah berjuang.

Aku belajar, bahwa terlalu egois jika aku hanya memikirkan tentang diriku sendiri saja.

Padahal, bukankah aku bisa menjadi anak yang dapat lebih dulu mengambil peran untuk memahami mereka? Memudahkan urusan mereka? Tetap berbakti pada mereka meski terkadang ada beberapa hal yang aku tidak suka atau aku memiliki alasan tersendiri untuk tidak melakukan sesuai arahan mereka?

Bukankah aku bisa menyampaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya saat aku tidak menyetujui sesuatu dari mereka? Bukankah Allah memampukan manusia untuk berpikir, berbicara, dan berperasaan agar digunakan dengan adab yang sebaik-baiknya?

Sebab, aku tidak ingin.. jika orang tuaku merasa gagal menjadi orang tua.


Ayah, mama.. maafkan jika aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk ayah dan mama. Maafkan jika aku masih sering memikirkan tentang diriku sendiri saja.

Ayah, mama.. terima kasih atas segala kesabaran dan kebaikan yang ayah mama berikan padaku saat membesarkanku meski sering sekali putrimu ini bahkan lupa untuk berbakti kepada kalian.

Ayah, mama.. aku akan lebih berusaha untuk menjadi anak yang baik, sebagaimana ayah dan mama berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untukku.

Ayah, mama.. terima kasih karena ayah-lah yang menjadi ayahku dan karena mama-lah yang menjadi mamaku.

Aku sayang sekali dengan ayah dan mama.. dan rasa sayangku tidak terkungkung oleh apapun.

Tertanda,

Putri kecil ayah dan mama—

Atika Meilani.