Sometimes, We Outgrow the Version of Ourselves That Everyone Knows

Ada fase dalam hidup ketika kita mulai berubah, tetapi orang-orang di sekitar kita masih mengenal kita sebagai versi diri kita yang dulu. Mereka masih mengingat bagaimana kita dulu berpikir. Bagaimana kita dulu bersikap. Apa yang dulu kita sukai. Bagaimana kita dulu merespons sesuatu.

Lalu, ketika kita mulai berubah, mungkin ada yang berkata,

“Kok sekarang kamu berbeda?”

“Dulu kamu nggak seperti ini.”

“Kamu berubah, ya.”

Dan terkadang, tanpa kita sadari, kalimat-kalimat itu membuat kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku memang berubah terlalu jauh?”

Padahal, bukankah manusia memang terus berkembang?

Pengalaman baru mengubah cara kita melihat sesuatu. Kegagalan membuat kita belajar. Hubungan membuat kita mengenal sisi diri yang sebelumnya tidak kita ketahui. Bahkan, bertambahnya usia membuat kita menyadari bahwa beberapa hal yang dulu kita anggap penting ternyata tidak lagi memiliki tempat yang sama di dalam hidup kita.

So, yes. Maybe we are supposed to change.

Ada perbedaan antara kehilangan diri sendiri dan bertumbuh menjadi diri yang baru. Kehilangan diri mungkin membuat kita semakin jauh dari nilai-nilai yang sebenarnya kita yakini. Tetapi bertumbuh justru membuat kita semakin mengenal siapa diri kita, apa yang kita butuhkan, apa yang perlu kita perbaiki, dan apa yang tidak lagi ingin kita bawa ke dalam kehidupan kita.

Maka, tidak semua perubahan harus dicurigai.

Tidak semua perubahan berarti kita sedang menjadi seseorang yang lebih buruk. Terkadang, kita hanya sedang meninggalkan versi diri yang sudah tidak lagi sesuai dengan siapa kita hari ini. Dan mungkin, bagian tersulitnya adalah ketika orang lain belum terbiasa dengan versi baru kita.

Mereka mungkin membutuhkan waktu untuk mengenal kita kembali. Begitu pula kita.

Because sometimes, we are also learning how to meet the person we are becoming.

Kita sedang belajar berbicara dengan cara yang berbeda. Belajar menetapkan batas. Belajar mengatakan tidak. Belajar tidak lagi bereaksi seperti dulu. Belajar memilih apa yang ingin kita pertahankan dan apa yang ingin kita lepaskan.

Dan semua proses itu mungkin terasa asing, bahkan bagi diri kita sendiri.

Tetapi bukankah pertumbuhan memang sering kali terasa asing sebelum akhirnya terasa seperti rumah?

Maka, jika hari ini ada seseorang yang berkata bahwa kamu sudah berubah, mungkin kamu tidak perlu buru-buru merasa bersalah.

Tanyakan saja kepada dirimu sendiri:

“Apakah perubahan ini membuatku semakin dekat dengan nilai-nilai yang ingin aku pegang?”

“Apakah aku menjadi lebih sadar terhadap diriku dan orang lain?”

“Apakah aku menjadi lebih mampu bertanggung jawab atas pilihan dan emosiku?”

Jika jawabannya iya, mungkin tidak semua perubahan perlu dijelaskan kepada semua orang.

Some versions of us are meant to be left behind.

Bukan karena versi itu buruk. Tetapi karena ia sudah menyelesaikan tugasnya dalam perjalanan kita. Dan mungkin, bertumbuh memang berarti berani mengucapkan terima kasih kepada diri kita yang dulu… lalu melanjutkan perjalanan sebagai seseorang yang baru.

—Atika Meilani.