Shalat Dhuha: Shalatnya Orang yang Kembali Taat

Diantara salah satu keutamaan mengenai shalat dhuha adalah termasuk shalat awwabin atau shalat-nya orang yang kembali taat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1: 164).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).

Coba kita tanya kepada diri kita sendiri: jika iman kita sedang tinggi, maka otomatis kita juga ingin untuk memperbanyak shalat sunnah, bukan? Bahkan, kita merasa “haus” sekali untuk memperbanyak shalat.

Oleh karena itu, saat kita memiliki rasa atau keinginan untuk menjalankan shalat sunnah, itu menjadi salah satu indikator bahwa kita ingin kembali taat kepada-Nya.

Maka, salah satu shalat sunnah yang banyak keutamaannya untuk ditegakkan adalah shalat dhuha, sampai-sampai shalat dhuha disebut sebagai shalat awwabin (orang yang kembali taat).

Sebab, orang beriman mana yang ingin dengan sengaja meninggalkan keutamaan-keutamaan dari shalat dhuha berikut?

Keutamaan shalat dhuha sebagai pengganti sedekah dengan seluruh persendian:

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at”. (HR. Muslim no.  720).

Padahal, manusia itu memiliki 360 persendian, lho!

Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ

“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007)

Namun, sedekah dengan sebanyak 360 persendian ini bisa digantikan dengan hanya shalat dhuha 2 raka’at!

Hadits dari Abu Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ

“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

MasyaAllaah.. Allah maha baik ya? Dia memberi kita banyak kemudahan dalam hal ibadah yang didesain dengan sederhana, mudah dilakukan dan dijalankan, namun bisa memberikan ganjaran yang berlipat ganda.

Mungkin, hanya kita saja yang terbebani dengan rasa malas yang berlebihan sehingga kita menganggap kita ‘tidak sempat’ menjalankan shalat sunnah.

Padahal… menjalankan shalat sunnah itu tidak menunggu kesempatan yang hadir, tapi justru kita lah yang MENGHADIRKAN kesempatan itu.

6 Februari 2024 || @/atikameilaani

Sumber tulisan: https://rumaysho.com/2845-keutamaan-shalat-dhuha.html

Tidak Buru-Buru Memberikan Reaksi

Semakin dewasa, satu hal yang aku sadari bahwa kita perlu melatih hal ini sebagai orang dewasa adalah: tidak buru-buru dalam memberikan reaksi.

Atika Meilani

Terdengarnya seperti hal yang mudah, tapi ternyata penerapannya sulit sekali!

Tidak langsung marah ketika anak berteriak melengkingkan suaranya hingga bisa mengganggu orang lain; tidak langsung membentak saat anak mengotori sesuatu; tidak langsung terkejut saat mendengar cerita orang lain yang memalukan atau menyedihkan; tidak langsung memberikan respon ketika kita jengkel terhadap sesuatu.

Ternyata, tidak buru-buru dalam memberikan reaksi itu salah satu kedewasaan. Menenangkan diri sejenak saat kita akan meledak itu memang suatu hal yang sangat sulit untuk dilakukan, tapi seringnya kita butuh jeda sejenak untuk menganalisis situasi agar kita tepat harus memberikan reaksi seperti apa.

Banyak konsekuensi yang tidak baik ketika kita buru-buru dalam memberikan reaksi. Ketika anak mengotori sesuatu lalu kita langsung meneriakinya dan marah kepadanya, sebenarnya yang kita lakukan hanyalah meledak mengikuti emosi kita tanpa memikirkan apa penyebab anak melakukan hal tersebut dan apa dampak yang akan dialami oleh anak ketika kita sering membentak dan memarahi anak.

Lantas, kita menjadi tidak tepat dalam bertindak, yang seharusnya momen itu bisa menjadi kesempatan untuk kita membentuk karakter anak. Ketika anak melakukan sesuatu yang melebihi batas yang telah disepakati, sejatinya anak perlu mengetahui mengapa perilaku itu tidak boleh dilakukan dan bagaimana perilaku yang seharusnya dia lakukan? Tapi, kita justru membentaknya karena kita tidak mampu ‘mengerem’ dengan memberi jeda sebelum bereaksi. Hasilnya, anak hanya mendapatkan ‘luka’ dari bentakan kita dan masih tetap tidak mengetahui kedepannya dia harus berperilaku seperti apa. Sedangkan kita?

Bukankah kita sudah sangat sering menyesal setelah membentak seseorang?

Menjadi dewasa ternyata perlu banyak belajar dan latihan. Untuk seimbang saat melatih reflek ketika kita menghadapi situasi darurat dan juga melatih jeda ketika emosi kita akan meledak. Dua kutub yang berseberangan untuk dilakukan tetapi membutuhkan kunci yang sama, yaitu menganalisis situasi.

Ketika menemui seseorang yang membuat kita jengkel, kira-kira, apa penyebab orang itu melakukan hal tersebut? Apa penyebab anak kecil suka berteriak sampai melengking yang menyebalkan buat kita? Oh ternyata, anak kecil sedang mengeksplorasi dirinya. Dia berteriak karena dia bahagia, kadang berteriak melengking sambil berlari-lari menunjukkan bahagianya. Dia belum memahami bahwa hal itu bisa mengganggu orang sekitar. Lantas, di situasi tersebut, bagaimana seharusnya reaksi kita? Tepatkah kalau kita justru memarahi anak yang sedang berada pada ‘puncak’ bahagianya dengan kita bentak? Saat emosi kita ada di ujung tanduk, sempat terpikirkah oleh kita bahwa reaksi kita itu bisa membuat anak trauma?

Maka, kemampuan analisis inilah yang perlu kita pertajam untuk kemudian melatih reaksi sesuai situasi yang kita hadapi. Tidak buru-buru memberikan reaksi yang bisa membuat hati orang lain terluka atau anak menjadi trauma. Di sisi lain, juga tidak terlambat untuk reflek menolong dan menyelamatkan ketika situasi sedang darurat.

Terkadang, mengambil jeda untuk bernapas 5 detik saja sebelum kita memberikan reaksi, bisa mengubah segalanya.

8 Juni 2022 || @/atikameilaani.

Sometimes, Closure Is Something We Create

There are endings that come with explanations.

A final conversation. An apology. An honest answer about what went wrong. A clear reason why someone decided to leave.

But there are also endings that don’t.

Sometimes, someone leaves without giving us the explanation we were hoping for. Sometimes, a relationship ends with unanswered questions. Sometimes, we never get to hear the other person’s side of the story, and sometimes, even after hearing it, we still don’t feel satisfied.

And perhaps this is one of the hardest things about losing someone:

We don’t only miss the person. We miss the explanation. We keep going back to the same questions.

Why did they do that?

Was I not enough?

Did I misunderstand everything?

What actually happened?

What could I have done differently?

We imagine that if we could just find the right answer, perhaps our mind would finally become quiet. But sometimes, closure doesn’t come from getting the answer we want.

Sometimes, closure is something we create for ourselves.

Not by pretending that what happened didn’t hurt. Not by convincing ourselves that we don’t care anymore. And certainly not by forcing ourselves to forgive before we are ready.

But by slowly accepting that there are parts of the story we may never fully understand.

This can be difficult because our minds naturally want things to make sense. We look for patterns, explanations, and causes. When an ending feels incomplete, we may keep revisiting the past, hoping that one more thought, one more conversation, or one more piece of information will finally make everything make sense.

But what if there is no additional information that will completely resolve it?

What if the person who hurt us cannot give us the explanation we need?

What if the person who hurt us cannot give us the explanation we need?

What if their explanation does not change what happened?

And what if understanding their reasons would not necessarily make the experience less painful?

Perhaps this is where we need to distinguish between understanding what happened and accepting that it happened.

We may never fully understand someone else’s choices. But we can still accept that the choice was made. We can acknowledge that something happened without agreeing with it. We can recognize that a relationship mattered to us without deciding that it must continue. We can miss someone and still know that returning is not necessarily the right thing to do. And we can have unanswered questions without allowing those questions to keep our lives waiting.

Maybe closure is not always a final conversation between two people. Sometimes, it is an internal conversation we have with ourselves.

This happened.

It hurt me.

There were things I wish had been different.

There are things I may never understand.

But I don’t want my life to remain suspended around questions that may never have answers.

And slowly, we begin to stop asking,

“Why did this happen to me?”

and start asking,

“What do I want to do with what happened to me?”

There is something empowering about that shift. Because the first question keeps our healing dependent on information from the past. The second gives us something we can work with in the present.

Maybe we cannot change how someone treated us. Maybe we cannot make someone apologize. Maybe we cannot make someone realize what they lost. Maybe we cannot receive the ending we once imagined. But we can decide what meaning we want to take from the experience.

We can learn what we need in our relationships. We can recognize boundaries we previously ignored. We can understand ourselves more deeply. We can become more careful without becoming cynical. And perhaps most importantly, we can stop waiting for another person to give us permission to move forward.

Because sometimes, the closure we keep waiting for is not another person’s explanation. It is our own decision to stop asking the past to give us something it no longer can.

Not every story ends with all the answers.

Sometimes, we simply reach a point where we know enough to continue. And maybe that is enough. Not because the ending was fair. Not because everything suddenly makes sense. But because our life is still moving forward. And we are allowed to move with it.

—Atika Meilani.

Your Issues Are Your Responsibility; Your Partner Can Only Give You Reassurance While You’re Working It Out!

Some of us have our issues that we got from the way our parents have treated us since childhood that then affected our self-esteem or some unfinished businesses from our past. Just trying to be realistic and blatantly honest, kita semua struggle dengan isu kita masing-masing, whether we are or we were.

Isu-isu yang sedang kita hadapi bisa muncul dalam berbagai bentuk di dalam hubungan kita dengan pasangan.

Bisa dalam bentuk insecure—merasa tidak lebih cantik atau lebih pantas daripada teman-teman dia, membandingkan diri kita dengan bagaimana seseorang di masa lalunya memperlakukan dia, kita menjadi iri, cemburu, dan merengek atas hal yang tidak seharusnya kita permasalahkan.

Bisa juga dalam bentuk kita merasa kesulitan membangun rasa percaya apakah pasangan kita benar-benar menyayangi kita; atau kita sering berasumsi dan menyimpulkan sendiri atas hal yang belum kita konfirmasi dengan pasangan—menganggap pasangan sudah tidak sayang ketika pasangan sedang membutuhkan sedikit ruang untuk berkontemplasi, misalnya. Maupun keraguan-keraguan yang lain yang membuat kita berulang kali butuh “diyakinkan” oleh pasangan kita.

Ketika menjalin suatu hubungan, kita sering lupa bahwa diri kita dan pasangan kita berasal dari latar belakang yang berbeda, sehingga kita menjadi berharap pasangan kita dapat selalu bisa “meyakinkan” diri kita yang sedang ‘merengek’.

Padahal.. masing-masing dari kita membawa pengalaman, emosi, dan isu kita sendiri. Pasangan kita pun juga membawa pengalaman, emosi, dan isu-nya sendiri.

One fundamental aspect of maintaining a healthy relationship is understanding that each individual brings their own set of experiences, emotions, and, inevitably, issues into the partnership.

Atika Meilani, 2024

Lantas, ketika dua orang dengan pengalaman dan isu yang berbeda menjalin suatu hubungan, apakah kemudian tanggung jawab untuk menyelesaikan isu tersebut berpindah tangan ke pasangan? Tentu tidak.

Tanggung jawab untuk menyelesaikan isu pribadi tetaplah berada di tangan pribadi, tidak berpindah ke tangan lain, meski dua orang telah bertemu dan menjalin hubungan mutual.

Oleh karena itu, di dalam suatu hubungan, penting untuk menyadari bahwa tanggung jawab untuk menyelesaikan isu dan permasalahan pribadi tetaplah diri kita sendiri.


Lantas, apa peran pasangan?

Peran pasangan adalah memberikan dukungan dan tempat bercerita yang aman untuk kita. Pasanganmu tidak bertanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan pribadimu. The real work of resolving and growing from your challenges lies within yourself.

I know.. sangat sulit untuk mengendalikan hal ini. Dan sangat mudah untuk menjadi demanding dengan berharap pasangan kita dapat memenuhi semua ‘rengekan’ kita. Terlebih ketika sudah menjalin hubungan dan kita merasa hubungan tersebut merupakan tempat ter-aman kita.. It’s easy to fall into the trap of expecting your partner to solve or magically alleviate your problems.

Oleh karena itu, kita perlu melihat hubungan sebagai perjalanan kolaboratif dimana kita dan pasangan dapat berkontribusi untuk pertumbuhan diri masing-masing demi mencapai hubungan mutual yang sehat.

Your partner can provide a listening ear, share insights, and offer comfort, but the heavy lifting of personal development belongs to you.

Dengan begitu, hal ini bukan berarti mengecilkan pentingnya support dari pasangan, tetapi justru menyadari bahwa peran pasangan adalah untuk saling melengkapi, saling memenuhi, atau complementary. They can be a source of strength, but the responsibility for addressing and resolving your issues ultimately rests with you.

Sedangkan diri kita?

Dengan menyadari bahwa isu kita adalah tanggung jawab kita, maka kita dapat menjadi seseorang dengan kemampuan introspeksi, refleksi diri, dan keinginan untuk bertumbuh yang sangat baik. Dengan menyadari area-area di dalam diri kita yang perlu untuk diimprove, akan menjadikan kita seseorang yang baik dalam bertumbuh.


Oleh karena itu, komunikasi merupakan kunci utama. Dengan memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan pemikiran-pemikiran kita dan mengekspresikan emosi secara elegan kepada pasangan, akan melahirkan lingkungan yang baik untuk menjalin kerja sama bersama pasangan. Sehingga, pasangan kita juga akan berada dalam lingkungan yang sehat untuk dapat memberikan dukungan dan tempat bercerita ter-aman.

Dengan memiliki mindset seperti ini, kelak kita akan bersyukur. Kita akan bisa berterima kasih karena kita telah mengupayakan hal ini, terlebih ketika kita berada di masa-masa sulit dalam suatu hubungan—karena kita akan selalu membutuhkan lingkungan yang sehat untuk bertumbuh bersama pasangan. Tidak mungkin kita memulai suatu hubungan untuk berakhir. Tidak mungkin kita menikah untuk bercerai.

Oleh karena itu, kita perlu menguatkan hubungan tersebut dengan menyadari bahwa kita dan pasangan berada dalam hubungan kolaboratif dan suportif. Because when both individuals in a relationship embrace this mindset, it creates a foundation for mutual understanding, empathy, and shared progress.

In conclusion, a healthy relationship is not about relying on your partner to fix your problems, but about acknowledging and actively addressing your issues. By taking responsibility for your personal growth, you empower yourself and contribute positively to the partnership. Your partner becomes a companion in this journey, offering support, reassurance, and shared victories as you both navigate the complexities of life together.

Atika Meilani, 2024

Shadow Teacher: Belajar Menjadi Bayangan yang Tidak Menghalangi Cahaya Anak

Ketika pertama kali menjadi shadow teacher, mungkin aku berpikir bahwa tugasku adalah selalu berada di dekat anak.

Membantu ketika ia kesulitan, mengingatkan ketika ia lupa, mendampingi ketika ia tidak memahami instruksi, dan memastikan ia dapat mengikuti kegiatan di kelas sebaik mungkin. Namun, semakin lama mendampingi, aku justru belajar bahwa menjadi shadow teacher bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kita lakukan untuk anak.

Justru, salah satu bagian tersulitnya adalah mengetahui kapan kita perlu membantu, dan kapan kita perlu mundur.

Karena terkadang, niat untuk membantu justru membuat anak semakin terbiasa dibantu. Ketika anak kesulitan memakai sepatu, misalnya, mungkin akan jauh lebih cepat jika kita langsung membantunya. Ketika ia tidak memahami instruksi, mungkin lebih mudah jika kita langsung mengarahkan setiap langkahnya. Ketika ia kesulitan menyelesaikan tugas, mungkin tangan kita refleks ingin segera mengambil alih.

Padahal, ada sesuatu yang mungkin lebih penting daripada sekadar menyelesaikan tugas itu hari ini:

kesempatan bagi anak untuk belajar bahwa ia mampu melakukannya sendiri.

Di sinilah aku mulai memahami bahwa mendampingi anak bukan berarti selalu membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah untuknya.

Sometimes, helping means knowing when not to help.

Bukan berarti membiarkan anak sendirian ketika ia kesulitan. Justru sebaliknya. Kita tetap hadir, tetapi memberikan bantuan secukupnya agar anak memiliki kesempatan untuk mencoba, gagal, memperbaiki, dan akhirnya menemukan caranya sendiri.

Mungkin kita memberikan sedikit petunjuk. Mungkin kita mengulang instruksi dengan cara yang lebih sederhana. Mungkin kita memberikan waktu lebih lama untuk merespons. Atau mungkin, kita hanya berdiri di dekatnya sambil menunggu. Dan ternyata, menunggu juga merupakan bentuk pendampingan.

Karena tidak semua kesulitan harus segera kita selesaikan. Tidak semua perilaku yang terlihat “sulit” harus langsung dihentikan. Tidak semua kesalahan harus segera dikoreksi.

Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dan bertanya,

“Apa yang sebenarnya sedang anak ini coba sampaikan?”

Bukan hanya, “Bagaimana supaya perilaku ini berhenti?”

Sebab di balik perilaku yang mungkin terlihat mengganggu, ada kebutuhan yang belum terpenuhi, keterampilan yang belum berkembang, atau situasi yang belum mampu ia pahami dengan caranya sendiri.

Dan tugas kita bukan hanya membuat anak menjadi lebih mudah diatur. Tugas kita adalah membantu anak lebih mampu memahami dirinya, lingkungannya, dan bagaimana ia dapat berfungsi di dalamnya.

Karena itu, menjadi shadow teacher juga membuatku belajar untuk tidak terlalu cepat mengukur perkembangan dari sesuatu yang besar. Kadang kemajuan itu sangat kecil. Hari ini ia mau duduk sedikit lebih lama. Hari ini ia mencoba meminta bantuan tanpa menangis. Hari ini ia berani mencoba aktivitas yang sebelumnya selalu ia hindari. Hari ini ia mampu menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya selalu membutuhkan bantuan penuh.

Bagi orang lain, mungkin terlihat biasa saja.

Tetapi bagi anak yang sedang belajar sebuah keterampilan baru, mungkin itu adalah sebuah pencapaian yang besar. Dan mungkin, kita perlu belajar untuk melihat perkembangan bukan hanya dari seberapa jauh anak sudah sampai, tetapi juga dari seberapa jauh ia sudah berjalan dari titik awalnya.

Di sisi lain, menjadi shadow teacher juga mengajarkanku bahwa anak bukanlah seseorang yang harus selalu kita lindungi dari kesulitan.

Ada kesulitan yang memang perlu didampingi. Tetapi ada pula kesulitan yang perlu diberi ruang agar anak belajar menghadapinya. Karena jika setiap kali anak mengalami kesulitan kita langsung datang untuk menyelesaikannya, kapan ia mendapatkan kesempatan untuk belajar bahwa dirinya mampu menghadapi kesulitan?

Bukankah tujuan pendampingan pada akhirnya bukan membuat anak selalu membutuhkan kita? Justru sebaliknya.

Kita ingin anak perlahan-lahan tidak lagi membutuhkan bantuan yang sebelumnya selalu ia perlukan.

Di situlah aku merasa bahwa menjadi shadow teacher memiliki sebuah paradoks yang indah. Kita hadir begitu dekat, tetapi tujuan akhirnya adalah membantu anak menjadi lebih mandiri. Kita membantu, tetapi tidak mengambil alih. Kita mengarahkan, tetapi tidak menentukan seluruh langkahnya. Kita menjaga, tetapi tidak membuatnya takut mencoba. Dan kita mendampingi, sambil perlahan belajar untuk melepaskan.

Mungkin inilah mengapa kata shadow terasa begitu tepat.

Bayangan selalu berada di dekat seseorang, tetapi tidak mengambil tempatnya. Ia mengikuti, tetapi bukan untuk menentukan ke mana seseorang harus berjalan. Ia hadir ketika dibutuhkan, lalu menjadi semakin tidak terlihat ketika cahaya anak mulai mampu menerangi jalannya sendiri.

Dan mungkin, keberhasilan seorang shadow teacher bukanlah ketika anak selalu mencari kita setiap kali mengalami kesulitan. Melainkan ketika suatu hari ia mulai mencoba terlebih dahulu sebelum meminta bantuan. Ketika ia mulai percaya bahwa dirinya mampu. Ketika ia berani melakukan sesuatu tanpa menunggu kita mengatakannya. Ketika kita bisa sedikit mundur, dan melihat bahwa anak ternyata sudah bisa berjalan dengan kakinya sendiri.

Karena pada akhirnya, kita bukan sedang membangun ketergantungan. Kita sedang membangun kemampuan. Bukan membuat anak selalu membutuhkan kita. Tetapi membantu anak menemukan bahwa ia juga memiliki kemampuan untuk membantu dirinya sendiri.

Dan mungkin, itulah salah satu pelajaran terbesar yang aku dapatkan dari menjadi shadow teacher:

Tidak semua bentuk kasih sayang harus hadir dalam bentuk melakukan sesuatu untuk seseorang.

Terkadang, bentuk kasih sayang yang paling tepat adalah memberikan ruang untuk mencoba. Memberikan waktu untuk belajar. Memberikan kesempatan untuk gagal.

Dan cukup percaya untuk berkata,

“Aku ada di sini. Kalau kamu benar-benar membutuhkan bantuanku, aku akan datang. Tapi coba dulu. Aku ingin melihat sejauh mana kamu bisa berjalan sendiri.”

Karena mungkin, menjadi shadow teacher memang berarti menjadi bayangan. Hadir ketika dibutuhkan, mundur ketika anak mulai mampu berjalan sendiri, dan memastikan bahwa keberadaan kita tidak pernah membuat anak lupa bahwa ia memiliki cahayanya sendiri.

—Atika Meilani.

Sometimes, We Grow Healthily if We Don’t Know Too Much

Set your boundaries: get to know when you should walk, run, or pause.

Atika Meilani, 2021.

Human tends to compare themselves to others.
At some point in life, we put others too high on a pedestal; we see others better than we see ourselves. Sometimes, we see other people have more in their physical appearance; prettier, slimmer, have body goals, and other beauty standards. Sometimes, we see others have better life condition; happier, richer, mentally stable, and are facing easier problems compared to our battlefield.

Is it normal? Probably.
Say it thousand times, again, “we are social creatures”. We interact with other people, we can observe each other’s life, and automatically our brain just, ta-daa, hijack our way of thinking to compare what we see with what we have.

Is it understandable why it happens—why do we tend to compare ourselves to others? Yes, it is understandable. But then, the question is: Is that good?

Unfortunately, it is not necessarily good.

Whether we are aware or not; the more we see others, the more information we have, and the higher possibility for us to compare ourselves to others. Then, the more we compare ourselves with others, our standard gets higher, higher, higher, and infinite.

If we don’t set our own boundaries, we won’t know when to stop. The more we see, the more thirst we get.

In the end, it is us, who put our own life, in danger.