Diantara salah satu keutamaan mengenai shalat dhuha adalah termasuk shalat awwabin atau shalat-nya orang yang kembali taat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين
“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1: 164).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).
Coba kita tanya kepada diri kita sendiri: jika iman kita sedang tinggi, maka otomatis kita juga ingin untuk memperbanyak shalat sunnah, bukan? Bahkan, kita merasa “haus” sekali untuk memperbanyak shalat.
Oleh karena itu, saat kita memiliki rasa atau keinginan untuk menjalankan shalat sunnah, itu menjadi salah satu indikator bahwa kita ingin kembali taat kepada-Nya.
Maka, salah satu shalat sunnah yang banyak keutamaannya untuk ditegakkan adalah shalat dhuha, sampai-sampai shalat dhuha disebut sebagai shalat awwabin (orang yang kembali taat).
Sebab, orang beriman mana yang ingin dengan sengaja meninggalkan keutamaan-keutamaan dari shalat dhuha berikut?
Keutamaan shalat dhuha sebagai pengganti sedekah dengan seluruh persendian:
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at”. (HR. Muslim no. 720).
Padahal, manusia itu memiliki 360 persendian, lho!
Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ
“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007)
Namun, sedekah dengan sebanyak 360 persendian ini bisa digantikan dengan hanya shalat dhuha 2 raka’at!
Hadits dari Abu Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ
“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)
MasyaAllaah.. Allah maha baik ya? Dia memberi kita banyak kemudahan dalam hal ibadah yang didesain dengan sederhana, mudah dilakukan dan dijalankan, namun bisa memberikan ganjaran yang berlipat ganda.
Mungkin, hanya kita saja yang terbebani dengan rasa malas yang berlebihan sehingga kita menganggap kita ‘tidak sempat’ menjalankan shalat sunnah.
Padahal… menjalankan shalat sunnah itu tidak menunggu kesempatan yang hadir, tapi justru kita lah yang MENGHADIRKAN kesempatan itu.
6 Februari 2024 || @/atikameilaani
Sumber tulisan: https://rumaysho.com/2845-keutamaan-shalat-dhuha.html


