Terkadang, ketika aku bepikir, membayangkan, mendambakan, dan merancang gambaran besar masa depan yang ingin aku rajut kelak…
“Aku nanti harus menjadi seorang istri yang baik dan meneduhkan.”
“Aku ingin menjadi orang tua yang dapat memberi teladan yang baik untuk anak-anakku nanti.”
“Aku ingin menjadi sahabat dan tempat ternyaman untuk suami dan anak-anakku nanti.”
“Aku ingin suami dan anak-anakku bersyukur karena memiliki istri dan ibu seperti diriku.”
“Aku ingin menciptakan rumah sebagai tempat ternyaman untuk kembali dari penatnya dunia.”
Aku membuat rencana besar dan berkomitmen dengan diriku sendiri mengenai bagaimana aku akan membawa diriku ketika aku menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anakku nanti, dengan mempersiapkan diri dan belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik, berjuang dan belajar sekuat tenaga.. juga memikirkan, bagaimana aku akan tetap tenang dan mampu untuk menghadapi kesulitan saat mendidik anak-anakku nanti.
Disaat seperti itu, aku sering lupa, bahwa orang tuaku mungkin juga pernah ada di posisi demikian ketika mereka belum mengemban peran menjadi orang tua—mereka juga mendambakan untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya nanti.
“Mungkin orang tuaku juga pernah bercita-cita memikirkan rencana-rencana yang ingin mereka lakukan saat mereka memiliki anak.”
“Mungkin, dulu, mereka juga pernah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin agar mereka bisa membesarkan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.”
“Mungkin, dulu, mereka juga berkomitmen dengan dirinya sendiri untuk berjuang sekuat tenaga menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya.”
Lalu aku berpikir,
Apakah ayah dan mama pernah merasa gagal menjadi orang tua? Apakah ayah dan mama pernah sempat ingin menyerah karena merasa sulit menghadapi anak-anaknya? Apakah ayah dan mama sering berjanji dengan dirinya sendiri berulang kali supaya dapat menebus ketidaksengajaan manusiawinya saat menjadi orang tua dan berharap dapat berhasil menjadi orang tua yang baik?
Seberapa sering mereka merasa berat? Seberapa sering mereka merasa gagal? Seberapa sering mereka menyalahkan dirinya sendiri saat mereka melakukan kesalahan yang bahkan mereka sendiri tidak sengaja melakukannya?
Aku sadar, betapa seringnya aku berlaku egois sebagai seorang anak. Mungkin memang benar bahwa itu hakku untuk mendapat pendidikan dan pengasuhan yang baik dari orang tua. Mungkin memang kesulitan yang dihadapi saat membesarkan anak itu adalah memang bagian konsekuensi dari peran mereka.
Tapi aku lupa, bahwa orang tuaku itu manusia. Mereka bisa merasakan kegagalan. Mereka bisa menyalahkan dirinya sendiri meski mereka sudah berjuang.
Aku belajar, bahwa terlalu egois jika aku hanya memikirkan tentang diriku sendiri saja.
Padahal, bukankah aku bisa menjadi anak yang dapat lebih dulu mengambil peran untuk memahami mereka? Memudahkan urusan mereka? Tetap berbakti pada mereka meski terkadang ada beberapa hal yang aku tidak suka atau aku memiliki alasan tersendiri untuk tidak melakukan sesuai arahan mereka?
Bukankah aku bisa menyampaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya saat aku tidak menyetujui sesuatu dari mereka? Bukankah Allah memampukan manusia untuk berpikir, berbicara, dan berperasaan agar digunakan dengan adab yang sebaik-baiknya?
Sebab, aku tidak ingin.. jika orang tuaku merasa gagal menjadi orang tua.
Ayah, mama.. maafkan jika aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk ayah dan mama. Maafkan jika aku masih sering memikirkan tentang diriku sendiri saja.
Ayah, mama.. terima kasih atas segala kesabaran dan kebaikan yang ayah mama berikan padaku saat membesarkanku meski sering sekali putrimu ini bahkan lupa untuk berbakti kepada kalian.
Ayah, mama.. aku akan lebih berusaha untuk menjadi anak yang baik, sebagaimana ayah dan mama berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untukku.
Ayah, mama.. terima kasih karena ayah-lah yang menjadi ayahku dan karena mama-lah yang menjadi mamaku.
Aku sayang sekali dengan ayah dan mama.. dan rasa sayangku tidak terkungkung oleh apapun.
Tertanda,
Putri kecil ayah dan mama—
Atika Meilani.

