Dulu, saya pikir meminta maaf itu sederhana.
Ketika kita menyadari bahwa kita melakukan kesalahan, kita meminta maaf, lalu selesai. Namun, semakin banyak saya belajar tentang psikologi dan hubungan antarmanusia, semakin saya menyadari bahwa meminta maaf yang bermakna ternyata tidak sesederhana mengucapkan kata “maaf”.
Terkadang, kita meminta maaf karena ingin konflik segera selesai. Karena tidak ingin orang lain marah lagi. Karena merasa bersalah dan ingin segera terbebas dari perasaan tersebut. Atau karena kita tahu bahwa kita memang seharusnya meminta maaf.
Padahal, meminta maaf bukan hanya tentang bagaimana kita merasa tidak nyaman setelah menyakiti seseorang. Ini juga tentang kesediaan untuk mengakui apa yang dialami orang lain akibat dari perilaku kita.
Ada perbedaan antara mengatakan,
“Maaf kalau kamu merasa tersinggung.”
dan,
“Maaf, perkataan saya tadi menyakiti kamu.”
Yang pertama bisa terdengar seperti kita meminta maaf atas perasaan orang lain. Sementara yang kedua menunjukkan bahwa kita bersedia mengakui bagian kita dalam apa yang terjadi.
Bukan berarti kita harus selalu setuju dengan cara orang lain memahami sebuah situasi. Kita tetap bisa memiliki perspektif yang berbeda. Namun, kita tetap bisa mengakui bahwa perkataan atau tindakan kita memiliki dampak tertentu bagi orang lain.
Dan mungkin, salah satu hal yang paling saya pelajari adalah:
Meminta maaf tidak sama dengan mengakui bahwa kita adalah orang yang buruk.
Mengakui bahwa kita melakukan kesalahan tidak berarti kita harus mendefinisikan seluruh diri kita berdasarkan kesalahan tersebut. Kita bisa mengatakan, “Saya salah.” tanpa kemudian menyimpulkan, “Saya adalah orang yang buruk.”
Justru, kemampuan untuk mengakui kesalahan tanpa langsung bersikap defensif membutuhkan kematangan tertentu. Karena sering kali, respons pertama kita adalah menjelaskan diri sendiri.
“Saya kan tidak bermaksud seperti itu.”
“Kamu salah memahami saya.”
“Saat itu saya sedang banyak masalah.”
“Tapi kamu juga melakukan hal yang sama.”
Mungkin semua itu benar dan memang memiliki konteks. Tetapi ada waktu untuk menjelaskan konteks, dan ada waktu untuk sekadar bertanggung jawab.
Karena menjelaskan mengapa kita melakukan sesuatu tidak selalu menghapus dampak dari apa yang kita lakukan.
Dan meminta maaf juga tidak seharusnya berhenti pada kata-kata. Jika perilaku yang sama terus berulang, lama-kelamaan “maaf” kehilangan maknanya. Karena pada akhirnya, permintaan maaf juga membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit: perubahan.
Mungkin kita perlu belajar lebih berhati-hati dalam memilih kata. Belajar berkomunikasi dengan cara yang berbeda. Mengenali pola dalam diri sendiri. Atau berusaha melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda ketika berada dalam situasi serupa. Karena terkadang, permintaan maaf yang paling tulus bukanlah yang kita ucapkan. Melainkan perilaku yang kita tunjukkan setelahnya.
Tentu saja, perubahan tidak selalu terjadi dalam satu malam. Kita manusia. Kita mungkin masih melakukan kesalahan yang sama. Tetapi seharusnya ada usaha untuk memahami apa yang terjadi, mengambil tanggung jawab, dan berusaha melakukan yang lebih baik.
Mungkin inilah yang mengubah cara saya melihat permintaan maaf setelah belajar psikologi. Saya tidak lagi melihat meminta maaf hanya sebagai sebuah bentuk kesopanan untuk mengembalikan hubungan menjadi “baik-baik saja”. Saya melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan self-awareness, accountability, dan repair.
Karena hubungan tidak dibangun oleh orang-orang yang tidak pernah saling menyakiti. Hubungan dibangun oleh orang-orang yang bersedia menyadari ketika mereka telah menyakiti, bertanggung jawab atas bagiannya, dan berusaha memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.
Terkadang, kalimat yang paling dewasa mungkin sesederhana: “Saya mengerti kenapa itu menyakiti kamu. Saya salah. Maaf. Saya akan berusaha untuk tidak mengulanginya.” Tanpa buru-buru membela diri. Tanpa menjadikan permintaan maaf sebagai cara untuk mengurangi rasa bersalah sendiri. Dan tanpa menuntut orang lain untuk langsung memaafkan kita.
Karena meminta maaf tidak memberi kita kendali atas seberapa cepat seseorang pulih. Kita bertanggung jawab atas permintaan maaf kita. Mereka bertanggung jawab atas proses pemulihan mereka.
Dan mungkin, di situlah letak makna sebuah permintaan maaf.
Bukan karena setelah mengucapkannya semua masalah langsung selesai, tetapi karena kita bersedia bertanggung jawab atas bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.
—Atika Meilani.

