Some of us have our issues that we got from the way our parents have treated us since childhood that then affected our self-esteem or some unfinished businesses from our past. Just trying to be realistic and blatantly honest, kita semua struggle dengan isu kita masing-masing, whether we are or we were.
Isu-isu yang sedang kita hadapi bisa muncul dalam berbagai bentuk di dalam hubungan kita dengan pasangan.
Bisa dalam bentuk insecure—merasa tidak lebih cantik atau lebih pantas daripada teman-teman dia, membandingkan diri kita dengan bagaimana seseorang di masa lalunya memperlakukan dia, kita menjadi iri, cemburu, dan merengek atas hal yang tidak seharusnya kita permasalahkan.
Bisa juga dalam bentuk kita merasa kesulitan membangun rasa percaya apakah pasangan kita benar-benar menyayangi kita; atau kita sering berasumsi dan menyimpulkan sendiri atas hal yang belum kita konfirmasi dengan pasangan—menganggap pasangan sudah tidak sayang ketika pasangan sedang membutuhkan sedikit ruang untuk berkontemplasi, misalnya. Maupun keraguan-keraguan yang lain yang membuat kita berulang kali butuh “diyakinkan” oleh pasangan kita.
Ketika menjalin suatu hubungan, kita sering lupa bahwa diri kita dan pasangan kita berasal dari latar belakang yang berbeda, sehingga kita menjadi berharap pasangan kita dapat selalu bisa “meyakinkan” diri kita yang sedang ‘merengek’.
Padahal.. masing-masing dari kita membawa pengalaman, emosi, dan isu kita sendiri. Pasangan kita pun juga membawa pengalaman, emosi, dan isu-nya sendiri.
One fundamental aspect of maintaining a healthy relationship is understanding that each individual brings their own set of experiences, emotions, and, inevitably, issues into the partnership.
Atika Meilani, 2024
Lantas, ketika dua orang dengan pengalaman dan isu yang berbeda menjalin suatu hubungan, apakah kemudian tanggung jawab untuk menyelesaikan isu tersebut berpindah tangan ke pasangan? Tentu tidak.
Tanggung jawab untuk menyelesaikan isu pribadi tetaplah berada di tangan pribadi, tidak berpindah ke tangan lain, meski dua orang telah bertemu dan menjalin hubungan mutual.
Oleh karena itu, di dalam suatu hubungan, penting untuk menyadari bahwa tanggung jawab untuk menyelesaikan isu dan permasalahan pribadi tetaplah diri kita sendiri.
Lantas, apa peran pasangan?
Peran pasangan adalah memberikan dukungan dan tempat bercerita yang aman untuk kita. Pasanganmu tidak bertanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan pribadimu. The real work of resolving and growing from your challenges lies within yourself.
I know.. sangat sulit untuk mengendalikan hal ini. Dan sangat mudah untuk menjadi demanding dengan berharap pasangan kita dapat memenuhi semua ‘rengekan’ kita. Terlebih ketika sudah menjalin hubungan dan kita merasa hubungan tersebut merupakan tempat ter-aman kita.. It’s easy to fall into the trap of expecting your partner to solve or magically alleviate your problems.
Oleh karena itu, kita perlu melihat hubungan sebagai perjalanan kolaboratif dimana kita dan pasangan dapat berkontribusi untuk pertumbuhan diri masing-masing demi mencapai hubungan mutual yang sehat.
Your partner can provide a listening ear, share insights, and offer comfort, but the heavy lifting of personal development belongs to you.
Dengan begitu, hal ini bukan berarti mengecilkan pentingnya support dari pasangan, tetapi justru menyadari bahwa peran pasangan adalah untuk saling melengkapi, saling memenuhi, atau complementary. They can be a source of strength, but the responsibility for addressing and resolving your issues ultimately rests with you.
Sedangkan diri kita?
Dengan menyadari bahwa isu kita adalah tanggung jawab kita, maka kita dapat menjadi seseorang dengan kemampuan introspeksi, refleksi diri, dan keinginan untuk bertumbuh yang sangat baik. Dengan menyadari area-area di dalam diri kita yang perlu untuk diimprove, akan menjadikan kita seseorang yang baik dalam bertumbuh.
Oleh karena itu, komunikasi merupakan kunci utama. Dengan memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan pemikiran-pemikiran kita dan mengekspresikan emosi secara elegan kepada pasangan, akan melahirkan lingkungan yang baik untuk menjalin kerja sama bersama pasangan. Sehingga, pasangan kita juga akan berada dalam lingkungan yang sehat untuk dapat memberikan dukungan dan tempat bercerita ter-aman.
Dengan memiliki mindset seperti ini, kelak kita akan bersyukur. Kita akan bisa berterima kasih karena kita telah mengupayakan hal ini, terlebih ketika kita berada di masa-masa sulit dalam suatu hubungan—karena kita akan selalu membutuhkan lingkungan yang sehat untuk bertumbuh bersama pasangan. Tidak mungkin kita memulai suatu hubungan untuk berakhir. Tidak mungkin kita menikah untuk bercerai.
Oleh karena itu, kita perlu menguatkan hubungan tersebut dengan menyadari bahwa kita dan pasangan berada dalam hubungan kolaboratif dan suportif. Because when both individuals in a relationship embrace this mindset, it creates a foundation for mutual understanding, empathy, and shared progress.
In conclusion, a healthy relationship is not about relying on your partner to fix your problems, but about acknowledging and actively addressing your issues. By taking responsibility for your personal growth, you empower yourself and contribute positively to the partnership. Your partner becomes a companion in this journey, offering support, reassurance, and shared victories as you both navigate the complexities of life together.
Atika Meilani, 2024