Not Everything Needs to Be Solved Immediately

Semakin dewasa, satu hal yang aku pelajari adalah bahwa tidak semua hal yang mengganggu pikiran kita harus segera diselesaikan.

Terkadang, kita terlalu terburu-buru mencari jawaban. Ketika pasangan berubah sedikit, kita langsung bertanya, “Kamu kenapa?” Ketika seseorang membalas pesan lebih singkat dari biasanya, kita mulai berpikir, “Apa aku melakukan sesuatu yang salah?” Ketika sedang merasa sedih tanpa tahu alasannya, kita memaksa diri untuk segera memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Seolah-olah setiap perasaan harus langsung memiliki penjelasan.

Padahal.. Mungkin tidak semua hal membutuhkan jawaban hari ini.

Ada kalanya kita hanya sedang lelah. Ada kalanya emosi kita menjadi lebih sensitif karena banyak hal yang terjadi sebelumnya. Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk memahami apa yang kita rasakan sebelum mampu menjelaskannya kepada orang lain. Dan menurutku, menjadi dewasa bukan berarti selalu mampu memahami segala sesuatu dengan cepat.

Sometimes, maturity is knowing when to pause before trying to understand everything.

Sebab ketika terlalu terburu-buru mencari jawaban, kita sering mengisi ruang kosong dengan asumsi. Pasangan yang sedang diam kita anggap sudah tidak menyayangi. Teman yang sedang menjauh kita anggap sudah tidak membutuhkan kita. Hari yang terasa buruk kita anggap sebagai tanda bahwa hidup kita sedang tidak baik-baik saja.

Padahal, bukankah kita sering membuat kesimpulan ketika informasi yang kita miliki bahkan belum cukup?

Karena itu, sebelum berusaha mencari jawaban, mungkin kita perlu memberi diri sendiri ruang untuk berhenti sejenak. Bukan untuk mengabaikan apa yang sedang terjadi, melainkan agar kita tidak merespons hanya berdasarkan emosi yang sedang memuncak.

Lantas, bagaimana kalau sebenarnya yang kita butuhkan bukan jawaban, tetapi jeda?

Jeda untuk bernapas. Jeda untuk menenangkan tubuh yang sedang tegang. Jeda untuk membiarkan emosi mereda sebelum mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika emosi berada di puncaknya, terkadang yang kita cari bukan kebenaran. Kita hanya sedang mencari sesuatu yang dapat membenarkan apa yang kita rasakan.

Di situlah jeda menjadi bagian dari regulasi emosi. Jeda membantu kita menciptakan jarak antara apa yang kita rasakan dan bagaimana kita memilih untuk meresponsnya. Dengan begitu, kita tidak perlu menyangkal perasaan, tetapi juga tidak langsung membiarkannya mengambil alih seluruh tindakan kita.

Namun, mengambil jeda tidak selalu sama dengan menghindar.

Jeda berarti kita mampu berkata kepada diri sendiri, “Aku belum siap membahas ini sekarang, tetapi aku akan kembali membicarakannya ketika sudah lebih tenang.”

Ada kesadaran bahwa sesuatu sedang terjadi, ada niat untuk memahaminya, dan ada kesiapan untuk kembali menghadapinya ketika kondisi kita sudah lebih memungkinkan.

Sementara itu, menghindar berarti terus menunda, mengalihkan perhatian, dan berharap masalah selesai dengan sendirinya tanpa pernah benar-benar kita hadapi.

Karena itu, tidak setiap diam berarti kita sedang melakukan regulasi emosi.

Bisa jadi kita memang sedang memberi diri sendiri waktu untuk menenangkan diri. Namun, bisa juga kita sedang melarikan diri dari percakapan yang tidak nyaman, tanggung jawab yang perlu diselesaikan, atau perasaan yang sebenarnya perlu kita akui.

Begitu pula, tidak setiap kali kita membutuhkan waktu berarti kita sedang bersikap dewasa. Bisa jadi kita memang membutuhkan jeda. Tetapi bisa juga kita sedang takut menghadapi sesuatu yang sebenarnya perlu diselesaikan.

Maka, mungkin yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri bukan hanya, “Apakah aku perlu jeda?”

Tetapi juga,

“Apa yang ingin aku lakukan setelah jeda ini?”

dan,

“Setelah mengambil jeda, apakah aku bersedia kembali menghadapi apa yang perlu aku hadapi?”

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena jeda yang sehat memiliki arah.

Ia memberi kita ruang untuk kembali dengan pikiran yang lebih jernih, bukan menjadi alasan untuk selamanya menghindari masalah. Ia membantu kita mengatur emosi agar dapat berkomunikasi dengan lebih baik, bukan membuat kita menghilang tanpa penjelasan.

Bukan berarti kita harus mengabaikan perasaan. Bukan berarti kita tidak boleh bertanya, berkomunikasi, atau menyelesaikan masalah.

Justru sebaliknya.

Dengan mengambil jeda, kita sedang berusaha agar percakapan dan tindakan kita tidak hanya menjadi luapan emosi. Kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami apa yang kita rasakan, apa yang kita butuhkan, dan apa yang sebenarnya perlu disampaikan kepada orang lain.

Kita hanya perlu belajar membedakan:

Mana sesuatu yang memang perlu segera diselesaikan, mana sesuatu yang membutuhkan waktu untuk dipahami, dan mana sesuatu yang sebenarnya sedang kita hindari karena belum berani menghadapinya.

Ternyata, memberikan jeda bukan berarti menghindari masalah.

Sometimes, giving yourself time is part of solving the problem.

Sebab ada hal-hal yang baru bisa kita lihat dengan jelas setelah hati tidak lagi terlalu penuh. Namun, kejernihan itu seharusnya membantu kita kembali hadir, bukan membuat kita semakin jauh dari hal yang perlu dihadapi.

Mungkin, menjadi dewasa bukan tentang selalu memiliki jawaban. Mungkin, menjadi dewasa adalah kemampuan untuk berkata kepada diri sendiri,

“Aku belum tahu jawabannya sekarang. Dan tidak apa-apa. Aku akan memahaminya pelan-pelan.”

Lalu, ketika waktunya tiba, kita tetap bersedia kembali menghadapinya.. dengan emosi yang lebih tertata, pikiran yang lebih jernih, dan keberanian untuk tidak terus bersembunyi di balik alasan membutuhkan waktu.

—Atika Meilani.