Tidak Semua Kebaikan Dibalas dengan Kebaikan yang Sama

Semakin dewasa, aku semakin menyadari bahwa ternyata salah satu hal yang membuat kita lelah dalam berbuat baik adalah ketika kita diam-diam menghitung balasan.

“Aku sudah baik kepadanya.”

“Aku sudah membantu ketika dia kesulitan.”

“Aku selalu ada ketika dia membutuhkan.”

“Kenapa ketika aku membutuhkan dia, dia tidak melakukan hal yang sama?”

Aku pikir, kita semua pernah berada di posisi itu. Kita melakukan sesuatu dengan tulus, tetapi kemudian kecewa ketika orang lain tidak memperlakukan kita dengan cara yang sama. Padahal, mungkin di situlah kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Apakah aku berbuat baik karena memang ingin berbuat baik, atau karena berharap suatu hari nanti kebaikan itu dikembalikan kepadaku dalam bentuk yang sama?

Sebab manusia memang memiliki kecenderungan untuk mengharapkan timbal balik. Ketika kita memberikan perhatian, kita berharap diperhatikan. Ketika kita mendengarkan, kita berharap didengarkan. Ketika kita membantu, kita berharap suatu hari nanti dibantu. Dan sebenarnya, berharap diperlakukan dengan baik bukanlah sesuatu yang salah.

Yang perlu kita hati-hati adalah ketika kebaikan yang kita berikan mulai berubah menjadi semacam hutang yang harus dibayar oleh orang lain.

Karena tidak semua orang memiliki cara yang sama dalam menunjukkan kasih sayang. Tidak semua orang mampu memberikan apa yang kita berikan.

Dan terkadang, seseorang bahkan tidak menyadari bahwa sesuatu yang kita lakukan untuknya memiliki arti sebesar itu bagi kita.

Lantas, apakah berarti kita harus terus memberi tanpa batas? Tentu tidak. Berbuat baik tidak berarti membiarkan diri kita terus-menerus dimanfaatkan. Menjadi tulus bukan berarti tidak boleh memiliki batas. Kita tetap boleh berkata tidak. Tetap boleh menjaga jarak. Tetap boleh berhenti memberikan sesuatu ketika hubungan tersebut sudah tidak sehat bagi kita.

Tetapi mungkin, kita perlu membedakan antara memberi batas karena ingin menjaga diri dan menarik kembali kebaikan karena ingin menghukum orang lain.

Karena keduanya terlihat mirip, tetapi datang dari tempat yang berbeda. Yang satu lahir dari kesadaran. Yang lainnya bisa lahir dari luka dan kekecewaan.

Maka, mungkin menjadi dewasa bukan berarti kita tidak pernah kecewa ketika kebaikan kita tidak dibalas. Kita tetap manusia. Kita bisa sedih. Kita bisa merasa tidak dihargai.

Tetapi setelah itu, kita belajar bertanya:

“Apakah aku ingin menjadi baik karena orang lain juga baik kepadaku?”

Atau,

“Apakah aku ingin menjadi baik karena memang itu nilai yang ingin aku pegang?”

Sebab kalau kebaikan kita selalu bergantung pada perlakuan orang lain, maka cara kita menjadi baik akan selalu berada di tangan manusia. Hari ini kita baik karena seseorang memperlakukan kita dengan baik. Besok kita berubah karena seseorang mengecewakan kita. Padahal, bukankah ada nilai yang ingin kita pertahankan bahkan ketika orang lain tidak melakukan hal yang sama kepada kita?

Dan mungkin, di situlah keikhlasan mulai belajar tumbuh. Bukan berarti kita tidak membutuhkan apresiasi. Bukan berarti kita harus terus memberi kepada orang yang tidak menghargai kita.

Tetapi kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu harus kembali melalui orang yang sama, dalam bentuk yang sama, atau pada waktu yang kita harapkan.

Kita berbuat baik karena Allah mengetahui. Kita menjaga adab karena itu bagian dari siapa diri kita. Dan ketika suatu hari kebaikan itu tidak kembali kepada kita dari manusia, semoga kita tidak merasa bahwa kebaikan tersebut menjadi sia-sia. Karena mungkin, tidak semua yang kita berikan kepada manusia memang ditakdirkan untuk kembali kepada kita.

Ada kebaikan yang kembali dalam bentuk ketenangan. Ada yang kembali melalui orang lain. Ada yang baru kita pahami manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Dan ada kebaikan yang mungkin tidak pernah kita lihat hasilnya di dunia. Tetapi Allah melihatnya.

Maka, tetaplah menjadi baik. Bukan karena semua orang layak mendapatkan kebaikan kita tanpa batas. Tetapi karena kita ingin menjadi manusia yang tetap memiliki adab, bahkan ketika orang lain tidak memperlakukan kita sebagaimana yang kita harapkan.

—Atika Meilani.

Setelah Menikah, Kamu Tetap Perlu Menjadi Dirimu Sendiri

Dulu, sebelum menikah, mungkin kita memiliki banyak gambaran tentang bagaimana kehidupan setelah menjadi seorang istri.

“Aku ingin menjadi istri yang baik.”

“Aku ingin menjadi tempat ternyaman untuk suamiku pulang.”

“Aku ingin bisa menemani suamiku dalam keadaan apapun.”

“Aku ingin menjadi perempuan yang bisa membuat rumah terasa seperti rumah.”

Aku pun mungkin pernah memiliki gambaran-gambaran seperti itu. Tapi setelah menikah, ternyata aku belajar satu hal yang sebelumnya mungkin tidak terlalu kupahami:

Menjadi seorang istri bukan berarti kehilangan dirimu sendiri.

Sebab, ketika dua orang menikah, bukan berarti dua manusia kemudian menjadi satu manusia yang harus selalu berpikir, merasa, dan melakukan segala sesuatu bersama.

Kita tetap memiliki pikiran sendiri. Kita tetap memiliki kebutuhan sendiri. Kita tetap memiliki ruang untuk bertumbuh. Dan menurutku, justru di situlah salah satu keindahan pernikahan. Kita tidak menikah untuk berhenti menjadi diri kita sendiri. Kita menikah untuk menjadi dua orang yang sama-sama bertumbuh, tetapi memilih untuk berjalan di arah yang sama.

Kadang-kadang, kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana menjadi istri yang baik sampai lupa bertanya,

“Apakah aku masih mengenal diriku sendiri?”

“Apakah aku masih tahu apa yang membuatku bahagia?”

“Apakah aku masih memiliki hal-hal yang ingin kupelajari?”

“Apakah aku masih memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga dan teman-temanku?”

“Apakah aku masih memberikan ruang kepada diriku untuk beristirahat, berpikir, dan berkembang?”

Sebab menjadi istri yang baik bukan berarti selalu tersedia setiap saat. Bukan berarti seluruh hidup kita harus berputar di sekitar pasangan. Dan bukan pula berarti setiap kebutuhan pribadi harus selalu dikorbankan agar pasangan merasa nyaman.

Ada kalanya kita perlu mengatakan,

“Aku sedang lelah.”

“Aku membutuhkan waktu sebentar.”

“Aku ingin melakukan ini.”

“Aku kurang nyaman dengan hal itu.”

Dan menurutku, kemampuan menyampaikan hal-hal tersebut dengan cara yang baik justru merupakan bagian dari kedewasaan dalam pernikahan. Karena pernikahan bukan tentang mencari seseorang yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan kita. Begitu pula kita tidak mungkin menjadi seseorang yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan pasangan kita.

We are still two different human beings, with different experiences, needs, emotions, and ways of processing things.

Lantas, bukankah lebih sehat jika kita tidak menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, satu-satunya tempat bercerita, atau satu-satunya alasan kita merasa berharga?

Pasangan memang seharusnya menjadi tempat kita merasa aman. Tetapi rasa aman tidak berarti kita harus kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri. Pasangan dapat menemani perjalanan kita, tetapi ia tidak harus menjadi seluruh perjalanan itu. Dan mungkin, justru ketika kita tetap memiliki kehidupan yang sehat sebagai individu, kita bisa hadir dalam pernikahan dengan versi diri yang lebih utuh.

Kita bisa mencintai tanpa kehilangan diri. Bisa dekat tanpa menjadi bergantung sepenuhnya. Bisa berkompromi tanpa terus-menerus mengorbankan diri. Bisa mendahulukan pasangan tanpa selalu meniadakan kebutuhan diri sendiri.

Sebab menjadi istri yang baik bukan tentang menjadi perempuan yang tidak pernah memiliki kebutuhan. Tetapi tentang bagaimana kita belajar mengenali kebutuhan diri, menyampaikannya dengan baik, sekaligus belajar memahami kebutuhan pasangan.

Bukankah pernikahan adalah perjalanan dua orang?

Maka, seharusnya bukan hanya satu orang yang terus belajar menyesuaikan diri. Keduanya belajar. Keduanya bertumbuh. Keduanya berkompromi. Keduanya belajar mencintai dengan cara yang mungkin tidak selalu sama dengan cara mereka ingin dicintai.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita sudah semakin lama menjadi istri, kita akan menyadari bahwa menjadi istri yang baik bukan tentang seberapa banyak bagian dari diri kita yang berhasil kita korbankan.

Tetapi tentang seberapa baik kita dapat mencintai pasangan, menjaga diri sendiri, dan tetap menjadi manusia yang bertumbuh di dalam pernikahan tersebut.

Karena aku tidak ingin menjadi istri yang hanya pandai mencintai suaminya.

Aku juga ingin menjadi perempuan yang tetap mengenal dirinya, menjaga hatinya, memperbaiki dirinya, dan terus belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Sebab sebelum menjadi seorang istri,

aku adalah seorang perempuan.

Dan sebelum menjadi seorang perempuan yang menjadi istri seseorang,

aku adalah seorang hamba yang sedang berjalan pulang kepada Allah.

—Atika Meilani.