Aku pernah berpikir bahwa ketika seseorang sedang kesulitan, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah membantunya. Kalau kita tahu jawabannya, kita beri tahu. Kalau kita tahu caranya, kita ajarkan. Kalau kita melihatnya kesulitan, kita bantu menyelesaikan.
Bukankah itu bentuk kepedulian?
Namun semakin dewasa, aku justru belajar bahwa membantu seseorang tidak selalu berarti melakukan sesuatu untuknya. Kadang, bentuk bantuan yang paling tepat justru adalah memberikan ruang agar ia mencoba sendiri.
Karena ada perbedaan antara helping dan overhelping.
Helping berarti memberikan dukungan ketika seseorang membutuhkannya, tanpa mengambil alih kemampuan dan tanggung jawabnya.
Sementara overhelping terjadi ketika kita memberikan bantuan lebih dari yang sebenarnya dibutuhkan sampai tanpa sadar kita mengambil alih sesuatu yang sebenarnya masih bisa ia lakukan sendiri.
Kita perlu memahami bahwa tidak semua bantuan adalah pertolongan.
Misalnya, seseorang sedang menghadapi masalah. Kita langsung memberikan solusi sebelum benar-benar mendengarkan. Seseorang sedang belajar melakukan sesuatu. Kita langsung mengambil alih karena menurut kita caranya terlalu lama. Anak sedang berusaha mengerjakan sesuatu. Kita langsung menyelesaikannya karena kita tidak tega melihatnya kesulitan. Atau seseorang sedang membuat keputusan yang sulit. Kita terlalu sibuk mengarahkan sampai akhirnya keputusan itu lebih banyak menjadi keputusan kita daripada keputusan mereka.
Awalnya terlihat seperti kepedulian. Tetapi coba kita tanyakan kembali:
Apakah orang tersebut memang membutuhkan bantuan kita, atau sebenarnya kita yang tidak nyaman melihat mereka mengalami kesulitan?
Karena terkadang, kita membantu bukan karena mereka tidak mampu. Kita membantu karena kita tidak tahan melihat mereka gagal. Kita tidak tahan melihat mereka bingung. Kita tidak tahan melihat prosesnya berjalan lebih lambat dari yang kita harapkan. Padahal, struggle tidak selalu berarti sesuatu sedang berjalan salah.
Ada hal-hal yang memang hanya bisa dipelajari ketika seseorang mengalaminya sendiri.
Kita bisa memberi tahu seseorang bagaimana cara menghadapi sebuah masalah, tetapi kita tidak bisa menjalani proses belajarnya untuk mereka. Kita bisa memberikan nasihat, tetapi keputusan tetap perlu menjadi miliknya. Kita bisa menemani seseorang ketika ia jatuh, tetapi kita tidak harus selalu mencegahnya jatuh. Dan ini bukan berarti kita harus menjadi cuek atau membiarkan orang lain menghadapi semuanya sendirian.
Justru sebaliknya.
Mungkin kita perlu belajar memberikan the right amount of help. Cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian, tetapi tidak terlalu banyak sampai ia kehilangan kesempatan untuk belajar. Cukup untuk memberikan arah, tetapi tidak sampai kita menentukan seluruh jalannya. Cukup untuk menjadi tempat bersandar, tetapi tidak sampai kita menjadi satu-satunya alasan ia mampu berdiri. Karena pada akhirnya, tujuan membantu bukan membuat seseorang selalu membutuhkan kita.
Tujuan membantu adalah membuat seseorang semakin mampu.
Mungkin karena itu, ada kalanya kita perlu menahan diri untuk tidak langsung memberikan jawaban. Memberikan kesempatan seseorang berpikir. Menunggu sebelum mengambil alih. Membiarkan seseorang mencoba caranya sendiri, meskipun caranya berbeda dari cara kita.
Dan mungkin yang paling sulit:
Membiarkan seseorang belajar dari konsekuensi pilihannya sendiri.
Tentu ada situasi ketika seseorang benar-benar membutuhkan pertolongan dan kita perlu hadir sepenuhnya. Ada kondisi ketika mengambil alih memang diperlukan. Ada pula keadaan ketika seseorang belum memiliki kapasitas untuk melakukannya sendiri.
Jadi, persoalannya bukan tentang membantu atau tidak membantu. Tetapi tentang memahami bantuan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan. Karena membantu juga membutuhkan kepekaan. Kita perlu cukup peka untuk tahu kapan harus datang. Dan cukup bijaksana untuk tahu kapan harus mundur.
Mungkin, bentuk kepedulian yang lebih dewasa bukan lagi tentang,
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”
Tetapi juga,
“Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku?”
Dan terkadang, jawabannya bukan solusi. Bukan seseorang yang mengambil alih. Bukan seseorang yang membereskan semuanya. Mungkin hanya seseorang yang duduk di samping kita dan berkata,
“Aku tahu ini sulit. Tapi coba dulu. Aku ada di sini kalau kamu membutuhkanku.”
Karena kita tidak selalu membantu seseorang dengan membuat jalannya lebih mudah. Kadang, kita membantu dengan membuatnya percaya bahwa ia mampu berjalan sendiri.
—Atika Meilani.