Setelah Menikah, Kamu Tetap Perlu Menjadi Dirimu Sendiri

Dulu, sebelum menikah, mungkin kita memiliki banyak gambaran tentang bagaimana kehidupan setelah menjadi seorang istri.

“Aku ingin menjadi istri yang baik.”

“Aku ingin menjadi tempat ternyaman untuk suamiku pulang.”

“Aku ingin bisa menemani suamiku dalam keadaan apapun.”

“Aku ingin menjadi perempuan yang bisa membuat rumah terasa seperti rumah.”

Aku pun mungkin pernah memiliki gambaran-gambaran seperti itu. Tapi setelah menikah, ternyata aku belajar satu hal yang sebelumnya mungkin tidak terlalu kupahami:

Menjadi seorang istri bukan berarti kehilangan dirimu sendiri.

Sebab, ketika dua orang menikah, bukan berarti dua manusia kemudian menjadi satu manusia yang harus selalu berpikir, merasa, dan melakukan segala sesuatu bersama.

Kita tetap memiliki pikiran sendiri. Kita tetap memiliki kebutuhan sendiri. Kita tetap memiliki ruang untuk bertumbuh. Dan menurutku, justru di situlah salah satu keindahan pernikahan. Kita tidak menikah untuk berhenti menjadi diri kita sendiri. Kita menikah untuk menjadi dua orang yang sama-sama bertumbuh, tetapi memilih untuk berjalan di arah yang sama.

Kadang-kadang, kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana menjadi istri yang baik sampai lupa bertanya,

“Apakah aku masih mengenal diriku sendiri?”

“Apakah aku masih tahu apa yang membuatku bahagia?”

“Apakah aku masih memiliki hal-hal yang ingin kupelajari?”

“Apakah aku masih memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga dan teman-temanku?”

“Apakah aku masih memberikan ruang kepada diriku untuk beristirahat, berpikir, dan berkembang?”

Sebab menjadi istri yang baik bukan berarti selalu tersedia setiap saat. Bukan berarti seluruh hidup kita harus berputar di sekitar pasangan. Dan bukan pula berarti setiap kebutuhan pribadi harus selalu dikorbankan agar pasangan merasa nyaman.

Ada kalanya kita perlu mengatakan,

“Aku sedang lelah.”

“Aku membutuhkan waktu sebentar.”

“Aku ingin melakukan ini.”

“Aku kurang nyaman dengan hal itu.”

Dan menurutku, kemampuan menyampaikan hal-hal tersebut dengan cara yang baik justru merupakan bagian dari kedewasaan dalam pernikahan. Karena pernikahan bukan tentang mencari seseorang yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan kita. Begitu pula kita tidak mungkin menjadi seseorang yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan pasangan kita.

We are still two different human beings, with different experiences, needs, emotions, and ways of processing things.

Lantas, bukankah lebih sehat jika kita tidak menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, satu-satunya tempat bercerita, atau satu-satunya alasan kita merasa berharga?

Pasangan memang seharusnya menjadi tempat kita merasa aman. Tetapi rasa aman tidak berarti kita harus kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri. Pasangan dapat menemani perjalanan kita, tetapi ia tidak harus menjadi seluruh perjalanan itu. Dan mungkin, justru ketika kita tetap memiliki kehidupan yang sehat sebagai individu, kita bisa hadir dalam pernikahan dengan versi diri yang lebih utuh.

Kita bisa mencintai tanpa kehilangan diri. Bisa dekat tanpa menjadi bergantung sepenuhnya. Bisa berkompromi tanpa terus-menerus mengorbankan diri. Bisa mendahulukan pasangan tanpa selalu meniadakan kebutuhan diri sendiri.

Sebab menjadi istri yang baik bukan tentang menjadi perempuan yang tidak pernah memiliki kebutuhan. Tetapi tentang bagaimana kita belajar mengenali kebutuhan diri, menyampaikannya dengan baik, sekaligus belajar memahami kebutuhan pasangan.

Bukankah pernikahan adalah perjalanan dua orang?

Maka, seharusnya bukan hanya satu orang yang terus belajar menyesuaikan diri. Keduanya belajar. Keduanya bertumbuh. Keduanya berkompromi. Keduanya belajar mencintai dengan cara yang mungkin tidak selalu sama dengan cara mereka ingin dicintai.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita sudah semakin lama menjadi istri, kita akan menyadari bahwa menjadi istri yang baik bukan tentang seberapa banyak bagian dari diri kita yang berhasil kita korbankan.

Tetapi tentang seberapa baik kita dapat mencintai pasangan, menjaga diri sendiri, dan tetap menjadi manusia yang bertumbuh di dalam pernikahan tersebut.

Karena aku tidak ingin menjadi istri yang hanya pandai mencintai suaminya.

Aku juga ingin menjadi perempuan yang tetap mengenal dirinya, menjaga hatinya, memperbaiki dirinya, dan terus belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Sebab sebelum menjadi seorang istri,

aku adalah seorang perempuan.

Dan sebelum menjadi seorang perempuan yang menjadi istri seseorang,

aku adalah seorang hamba yang sedang berjalan pulang kepada Allah.

—Atika Meilani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *