Semakin dewasa, satu hal yang aku sadari bahwa kita perlu melatih hal ini sebagai orang dewasa adalah: tidak buru-buru dalam memberikan reaksi.
Atika Meilani
Terdengarnya seperti hal yang mudah, tapi ternyata penerapannya sulit sekali!

Tidak langsung marah ketika anak berteriak melengkingkan suaranya hingga bisa mengganggu orang lain; tidak langsung membentak saat anak mengotori sesuatu; tidak langsung terkejut saat mendengar cerita orang lain yang memalukan atau menyedihkan; tidak langsung memberikan respon ketika kita jengkel terhadap sesuatu.
Ternyata, tidak buru-buru dalam memberikan reaksi itu salah satu kedewasaan. Menenangkan diri sejenak saat kita akan meledak itu memang suatu hal yang sangat sulit untuk dilakukan, tapi seringnya kita butuh jeda sejenak untuk menganalisis situasi agar kita tepat harus memberikan reaksi seperti apa.
Banyak konsekuensi yang tidak baik ketika kita buru-buru dalam memberikan reaksi. Ketika anak mengotori sesuatu lalu kita langsung meneriakinya dan marah kepadanya, sebenarnya yang kita lakukan hanyalah meledak mengikuti emosi kita tanpa memikirkan apa penyebab anak melakukan hal tersebut dan apa dampak yang akan dialami oleh anak ketika kita sering membentak dan memarahi anak.
Lantas, kita menjadi tidak tepat dalam bertindak, yang seharusnya momen itu bisa menjadi kesempatan untuk kita membentuk karakter anak. Ketika anak melakukan sesuatu yang melebihi batas yang telah disepakati, sejatinya anak perlu mengetahui mengapa perilaku itu tidak boleh dilakukan dan bagaimana perilaku yang seharusnya dia lakukan? Tapi, kita justru membentaknya karena kita tidak mampu ‘mengerem’ dengan memberi jeda sebelum bereaksi. Hasilnya, anak hanya mendapatkan ‘luka’ dari bentakan kita dan masih tetap tidak mengetahui kedepannya dia harus berperilaku seperti apa. Sedangkan kita?
Bukankah kita sudah sangat sering menyesal setelah membentak seseorang?

Menjadi dewasa ternyata perlu banyak belajar dan latihan. Untuk seimbang saat melatih reflek ketika kita menghadapi situasi darurat dan juga melatih jeda ketika emosi kita akan meledak. Dua kutub yang berseberangan untuk dilakukan tetapi membutuhkan kunci yang sama, yaitu menganalisis situasi.
Ketika menemui seseorang yang membuat kita jengkel, kira-kira, apa penyebab orang itu melakukan hal tersebut? Apa penyebab anak kecil suka berteriak sampai melengking yang menyebalkan buat kita? Oh ternyata, anak kecil sedang mengeksplorasi dirinya. Dia berteriak karena dia bahagia, kadang berteriak melengking sambil berlari-lari menunjukkan bahagianya. Dia belum memahami bahwa hal itu bisa mengganggu orang sekitar. Lantas, di situasi tersebut, bagaimana seharusnya reaksi kita? Tepatkah kalau kita justru memarahi anak yang sedang berada pada ‘puncak’ bahagianya dengan kita bentak? Saat emosi kita ada di ujung tanduk, sempat terpikirkah oleh kita bahwa reaksi kita itu bisa membuat anak trauma?
Maka, kemampuan analisis inilah yang perlu kita pertajam untuk kemudian melatih reaksi sesuai situasi yang kita hadapi. Tidak buru-buru memberikan reaksi yang bisa membuat hati orang lain terluka atau anak menjadi trauma. Di sisi lain, juga tidak terlambat untuk reflek menolong dan menyelamatkan ketika situasi sedang darurat.
Terkadang, mengambil jeda untuk bernapas 5 detik saja sebelum kita memberikan reaksi, bisa mengubah segalanya.
8 Juni 2022 || @/atikameilaani.